Puluhan Tahun Terjang Rob, Siswa SD Surabaya Berangkat Sekolah Digendong Orang Tua



jatim.

SURABAYA – Banjir rob yang melanda kawasan Kalianak, Kecamatan Krembangan, Surabaya, tidak hanya mengganggu kehidupan warga sehari-hari, tetapi juga berdampak pada aktivitas belajar mengajar di SD Yayasan Karya Putra.

Sekitar 195 siswa sekolah tersebut masih tetap mengikuti pembelajaran meski sebagian ruang kelas tergenang air laut setinggi mata kaki. Untuk bisa beraktivitas, para siswa harus melepas sepatu dan mengenakan sandal. Selain itu, demi menjaga seragam tetap kering, beberapa siswa digendong oleh orang tua mereka saat pergi maupun pulang sekolah.

Guru SD Yayasan Karya Putra Yuli mengatakan pihak sekolah memutuskan untuk tetap menyelenggarakan pembelajaran karena jadwalnya bertepatan dengan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

“Dua kelas mengalami dampak paling parah dengan genangan setinggi mata kaki. Namun, kami tidak meliburkan siswa karena kegiatan pembelajaran tetap harus berjalan dan saat ini juga bertepatan dengan MPLS,” ujar Yuli, Rabu (15/7).

Menurut dia, banjir rob sudah menjadi masalah yang terus berulang sejak sekolah berdiri pada tahun 1998. Dalam sebulan, genangan air laut bisa terjadi dua hingga tiga kali.

Pihak sekolah telah melakukan upaya perbaikan infrastruktur secara bertahap. Namun, keterbatasan anggaran membuat upaya penanganan belum mampu mengatasi banjir secara menyeluruh.

“Saat rob datang, siswa sudah terbiasa memakai sandal, bahkan mereka berangkat dan pulang sekolah dengan digendong orang tua,” katanya.

Guru lainnya, Nanda, mengungkapkan kekhawatiran karena ketinggian genangan air dinilai semakin meningkat setelah adanya proyek normalisasi Sungai Kalianak yang berada tidak jauh dari lokasi sekolah.

“Kami merasa genangan air yang masuk ke sekolah semakin dalam setelah proyek normalisasi dikerjakan. Kami berharap ada perhatian dan solusi agar kondisi ini bisa segera diatasi,” ujar Nanda.

Di sisi lain, warga Kalianak Timur Hendro mengatakan banjir rob telah menjadi persoalan yang dihadapi masyarakat selama puluhan tahun. Menurutnya, saat air laut pasang, ketinggian genangan dapat mencapai lebih dari 50 sentimeter sehingga mengganggu aktivitas ekonomi maupun pendidikan anak-anak.

“Warga sekarang hanya bisa memantau jadwal pasang surut air laut untuk mengantisipasi banjir. Kami berharap ada solusi karena dampaknya sangat besar bagi kehidupan sehari-hari,” kata Hendro.