Trump Ancam Iran Kembali: Pilih Damai atau ‘Kami Selesaikan’, Teheran Balas dengan Nada Tegas



Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, kembali menyampaikan ancaman terhadap Iran di tengah tidak adanya kemajuan dalam perundingan nuklir antara kedua negara. Trump menegaskan bahwa Washington hanya memiliki dua pilihan, yaitu mencapai kesepakatan dengan Teheran atau kembali menggunakan kekuatan militer.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Trump pada Senin (6/7) waktu setempat, setelah pembicaraan tidak langsung antara AS dan Iran berakhir tanpa hasil signifikan. Kondisi ini memicu keraguan mengenai masa depan gencatan senjata 60 hari yang sebelumnya diharapkan menjadi langkah awal menuju diplomasi kembali.

“Kami akan membuat kesepakatan atau kami akan menyelesaikan pekerjaan itu. Dan itu tidak akan sulit. Saya lebih memilih membuat kesepakatan karena saya tidak ingin memengaruhi 91 juta orang,” kata Trump kepada wartawan di Ruang Oval Gedung Putih.

Di sisi lain, Trump juga menekankan kemampuan militer AS jika negosiasi gagal. Ia menyebut bahwa AS bisa menghancurkan jembatan Iran dalam satu jam dan melumpuhkan pasokan energi mereka. “Mereka tidak punya uang sekarang. Kami tidak memberikan mereka uang,” tambahnya.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa Washington masih membuka pintu diplomasi, tetapi tetap mempertahankan ancaman opsi militer apabila Iran tidak memenuhi tuntutan terkait program nuklirnya.

Sementara itu, Iran merespons dengan keras terhadap ultimatum Trump. Mohammad Baqer Zolqadr, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, menyebut ancaman Trump tidak realistis dan tidak akan membuat Teheran gentar.

“Ancaman Trump hanyalah delusi. Rakyat Iran tidak mengenal bahasa ancaman. Berbicaralah kepada rakyat Iran dengan penuh hormat, jika tidak kami akan merespons dengan bahasa yang lain,” ujar Zolqadr seperti dikutip dari media pemerintah Iran.

Ketegangan ini muncul beberapa hari setelah prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Alih-alih menunjukkan tanda-tanda melemah setelah konflik bersenjata dengan AS dan Israel, situasi di Iran justru menunjukkan solidaritas nasional yang kuat.

Beberapa pengamat menilai dukungan publik yang muncul selama pemakaman tersebut menjadi sinyal bahwa pemerintah Iran masih memiliki basis politik yang solid untuk menghadapi tekanan luar negeri.

Sebelumnya, Washington berharap gencatan senjata selama 60 hari dapat menjadi momentum menghidupkan kembali jalur diplomasi. Kesepakatan ini dirancang setelah konflik yang dipicu serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, dengan tujuan utama menghentikan pengembangan senjata nuklir Teheran.

Namun, hingga putaran perundingan terakhir berakhir, belum ada indikasi tercapainya terobosan yang dapat mengarah pada kesepakatan permanen. Kondisi ini membuat hubungan kedua negara kembali berada dalam fase yang penuh ketidakpastian, sementara ancaman eskalasi militer masih membayangi kawasan Timur Tengah.