11 kalimat yang sering diucapkan orang narsis tinggi menurut psikolog

– Seseorang dengan sifat narsistik sering kali memiliki rasa percaya diri yang tinggi terhadap dirinya sendiri.

Mereka cenderung sensitif terhadap kritik dan sulit memiliki empati kepada orang lain. Fokusnya hanya berpusat ke dirinya sendiri.

Sayangnya, menghadapi orang dengan sikap narsistik yang tinggi tidaklah mudah. Sikap tersebut justru sering kali merugikan orang lain.

Hal ini karena orang narsistik sulit untuk diajak komunikasi. Mereka yang berbicara dengan orang narsistik akan merasa diabaikan, tidak dianggap, atau bahkan merasa dikritik balik.

Psikolog lulusan Harvard, Cortney Warren, membagikan kalimat yang sering diucapkan orang narsistik, seperti dikutip dari CNBC.

Kalimat-kalimat tersebut dapat menjadi pedoman Anda untuk menghadapi seseorang yang ternyata memiliki tingkat narsistik yang tinggi.

Kalimat yang sering diucapkan orang narsistik

Selain sulit diajak berkomunikasi, orang narsis merupakan manipulator yang ulung.

Berikut ini beberapa kalimat yang kerap diucapkan orang narsis tanpa sadar:

1. “Kamu beruntung aku masih peduli”

Orang yang narsis menganggap dirinya paling istimewa dan lebih baik dari orang lain.

Mereka percaya bahwa orang lain seharusnya merasa bersyukur berada di sekitar mereka.

Beberapa frasa yang sering digunakan adalah, “Kamu beruntung aku masih peduli,” atau “Kamu tidak pantas untukku”.

2. “Kamu sangat menyedihkan”

Banyak orang yang narsis adalah mereka yang sebenarnya mengalami kekecewaan kronis terhadap orang lain.

Sebagai respons, mereka akan merendahkan orang lain dengan hinaan yang menyakitkan, melukai, dan jahat.

Kalimat yang diucapkan orang narsistik tanpa disadari salah satunya, “Kamu sangat menyedihkan” atau “Tidak akan ada orang lain yang mau bersamamu”,

3. “Kamu membutuhkanku”

Seperti yang sudah disampaikan, orang narsis sering menggunakan taktik manipulatif, seperti ancaman atau intimidasi.

Tujuannya adalah untuk menjaga agar orang lain tetap terikat dalam hubungan dengannya.

Berikut frasa yang biasa digunakan orang narsis:

  • “Kamu membutuhkanku”
  • “Hati-hati, nanti kamu malah membuatku menjauh.”
  • “Aku akan menghancurkanmu jika kau menentangku, dan tak seorang pun akan mau berhubungan denganmu.”

4. “Saya biasanya benar”

Orang dengan sifat narsistik akan sulit berempati dengan orang lain.

Akibatnya, mereka jarang melihat orang lain dalam suatu hubungan sebagai individu yang mandiri dengan pikiran, perasaan, dan pengalaman mereka sendiri.

Orang seperti ini secara tidak sadar sering berkata, “Saya biasanya benar”.

5. “Saya tidak punya waktu untuk ini”

Kalimat berikutnya yang sering diucapkan orang narsis adalah “Saya tidak punya waktu untuk ini”.

Kalimat ini menandakan bahwa seseorang sedang berusaha memutuskan komunikasi untuk menunjukkan kekesalan mereka.

Mereka akan berpura-pura tidak terpengaruh, sedangkan memberikan perlakuan diam kepada Anda.

6. “Tak satu pun yang ku lakukan cukup untukmu. Aku selalu salah”

Psikologi klinis berlisensi di Florida Dr. Patricia Dixon, PsyD mengatakan, orang narsis cenderung mengalihkan fokus dari perilaku yang dimaksudkan ke kemarahan atau ketidakmampuan orang lain.

Mereka akan membingkai ulang pertukaran tersebut sebagai kritik terhadap korban.

Oleh sebab itu, orang narsistik lebih mungkin berkata, “Tak satu pun yang kulakukan cukup untukmu. Aku selalu salah”.

“Frasa ini memicu dinamika gaslighting yang menyiratkan bahwa seorang narsisi akan selalu tidak bersalah,” kata Dixon, dilansir dari Parade.

7. “Saya yang membangun semua ini”

Seseorang yang narsis mungkin menggunakan frasa ini untuk membangun egonya dan mengklaim kepemilikan serta kekuasaan, terutama dalam lingkungan kerja.

“Pada dasarnya, itu cara mereka mengatakan, ‘Kau berutang padaku,’” jelas Dr. Jason Walker, PsyD, PhD, direktur program dan profesor madya di Universitas Adler.

8. “Kenapa kamu tidak bisa melupakannya saja? Kamu selalu mengungkit masa lalu”

Menurut Dixon, orang narsis menggunakan kalimat ini untuk menunjukkan bahwa Anda telah bereaksi berlebihan.

Kalimat ini juga menekan Anda agar berhenti menyampaikan isi hati Anda.

9. “Tak ada yang peduli padamu seperti aku. Aku sudah melakukan segalanya untukmu, tapi tak ada yang kulakukan untuk diriku sendiri”

Faktor utama hubungan toxic adalah isolasi, dan frasa salah satu perwujudannya.

“(Frasa ini) menciptakan dinamika yang mengikat, saling bergantung, dan mengisolasi orang lain,” kata Dr. Dixon.

10. “Kamu terlalu sensitif”

Kalimat ‘Kamu terlalu sensitif’ merupakan contoh klasik dari gaslighting dan teknik pembelokan.

“Ketika Anda menegur orang atas perilaku mereka, si narsis akan membingkai ulang reaksi Anda sebagai masalah,” jelas Dr. Walker.

“Ini adalah bentuk gaslighting terbaik dan bertujuan untuk mengikis kepercayaan diri dan mengalihkan tanggung jawab,” imbuhnya.

11. “Hanya kamu yang berpikir seperti itu”

Orang narsis mungkin menggunakan taktik gaslighting untuk memanipulasi Anda.

“Mereka akan menggunakan frasa yang mendiskreditkan realitas atau persepsi orang lain, merusak kepercayaan diri, dan membuat mereka meragukan ingatan atau penilaian mereka sendiri,” tutur Dixon.

Cara menghadapi orang narsis

Walker membagikan tips yang bisa dilakukan agar tetap waras saat berhubungan dengan orang yang memiliki tingkat narsistik yang tinggi.

Berikut caranya:

  • Tenangkan diri Anda dengan menghubungkan kembali nilai-nilai inti, kenangan, dan identitas Anda.
  • Tulislah surat untuk dirimu yang lebih muda, ingatkan dirimu tentang kekuatan, batasanmu, dan mengapa batasan itu penting bagimu.
  • Ingatkan diri Anda bahwa persepsi Anda harus didasarkan pada perilaku yang dapat diamati, bukan upaya orang lain untuk menulis ulang realitas.
  • Buatlah jurnal yang mencatat, tanggal, dan tindakan konkret (untuk catatan Anda sendiri, bukan untuk konfrontasi, dan untuk membantu pengujian realitas).
  • Hubungi orang-orang yang Anda percaya, seperti teman, anggota keluarga, terapis, mentor, atau kelompok pendukung.
  • Teruslah menetapkan batasan dengan menggunakan pernyataan “Saya”, sebutkan pola perilakunya dan sampaikan konsekuensinya jika mereka melanggar batasan Anda (misalnya, “Jika kita tidak bisa berbicara tanpa saling menghina, saya akan pergi”).
  • Terlibat dalam aktivitas dan hubungan yang membantu Anda merasa aman secara emosional.
  • Selalu ingat bahwa pendapat mereka bukan Anda.
  • Tetaplah bersikap tidak defensif; hindari bereaksi.
  • Tetap berpegang pada fakta.
  • Mengalihkan pembicaraan.

Dengan menetapkan batasan dan memvalidasi apa yang Anda alami, Anda tidak akan membiarkan orang narsis untuk mengalihkan pembicaraan dari pokok masalah.

Atau, jika Anda sudah tidak sanggup lagi, pertimbangkan untuk menjauhkan diri dari orang seperti ini.