Khutbah Jumat 5 Juni: Indahnya Tutur Kata Berbalut Kebaikan

Pentingnya Ucapan Baik dalam Ajaran Islam untuk Jumat, 5 Juni 2026

Menjelang pelaksanaan ibadah salat Jumat pada tanggal 5 Juni 2026, umat Muslim di seluruh dunia bersiap untuk menunaikan kewajiban mingguan ini. Bagi mereka yang bertugas sebagai khatib, atau yang secara mendadak harus menggantikan khatib karena berhalangan, ketersediaan naskah khutbah yang terstruktur dapat menjadi panduan yang sangat berharga. Naskah khutbah ini dirancang untuk membantu para khatib menyampaikan pesan-pesan keagamaan yang relevan dan mendalam kepada jamaah.

Salah satu contoh naskah khutbah yang tersedia telah disusun oleh Amien Nurhakim, seorang alumni UIN Jakarta dan Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus-Sunnah Ciputat. Naskah ini telah dipublikasikan dan dapat diakses sebagai referensi, memastikan bahwa pesan-pesan agama disampaikan dengan baik dan sesuai.

Khutbah I: Menjaga Lisan dan Menjunjung Kasih Sayang

  • Pembukaan dan Nasihat Ketakwaan:
    Khutbah dimulai dengan pujian kepada Allah SWT, pengakuan atas nikmat-Nya, dan kesaksian atas keesaan-Nya serta kerasulan Nabi Muhammad SAW. Khatib mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Takwa yang sesungguhnya diwujudkan dengan menjauhi segala larangan-Nya dan menjalankan perintah-Nya sejauh kemampuan. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 13: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”

  • Islam sebagai Rahmatan lil ‘Alamin dan Peran Ucapan Baik:
    Umat Islam memiliki peran sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta. Ajaran Islam menekankan pentingnya kasih sayang kepada seluruh makhluk ciptaan Tuhan, termasuk manusia, hewan, tumbuhan, dan lingkungan. Salah satu manifestasi kasih sayang yang diajarkan dalam Islam adalah melalui perkataan dan ucapan yang baik. Perbuatan baik ini tidak hanya mendatangkan kebaikan duniawi, tetapi juga meninggikan derajat seseorang di hadapan Allah SWT dan di tengah-tengah masyarakat.

    Allah SWT secara tegas memerintahkan umat-Nya untuk mengucapkan perkataan yang baik. Dalam Surat Al-Baqarah ayat 83, Allah berfirman: “Ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.” Janji indah juga diberikan bagi orang-orang beriman yang beramal saleh, yaitu surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Karakter penghuni surga ini lebih lanjut dijelaskan dalam Surat Al-Hajj ayat 24, di mana mereka adalah orang-orang yang diberi petunjuk untuk mengucapkan ucapan-ucapan yang baik dan ditunjukkan kepada jalan Allah yang terpuji.

    Lebih lanjut, dalam Surat Al-Isra’ ayat 53, Allah menegaskan pentingnya berkata baik, baik kepada sesama Muslim maupun non-Muslim: “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: ‘Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.’”

  • Menjaga Lisan dari Ucapan Buruk:
    Ayat-ayat Al-Qur’an tersebut menjadi pengingat kuat bagi kita untuk senantiasa menjaga lisan. Apa pun yang keluar dari mulut kita hendaknya adalah kebaikan. Jika tidak mampu berkata baik, maka diam adalah pilihan yang lebih bijak. Ucapan yang tidak baik dapat menyakiti hati orang lain, menimbulkan kekacauan dalam masyarakat, dan merusak hubungan harmonis yang telah terjalin.

    Pesan Nabi Muhammad SAW dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim sangat jelas: “Siapa pun yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia mengucapkan perkataan yang baik atau diam.”

    Perkataan yang berlebihan tanpa kendali dapat menyebabkan ucapan buruk yang menyasar orang lain, yang pada akhirnya menimbulkan kerusakan dan penyakit hati, baik bagi pembicara maupun pendengarnya. Ucapan yang tidak baik merupakan akhlak tercela yang dapat menimbulkan kebencian. Imam al-Lu’lui dalam syair Adabut Thalab mengingatkan, “Dalam banyaknya bicara dapat menimbulkan sebagian kebencian.”

  • Kaedah Berbicara yang Bijak:
    Imam al-Nawawi memberikan kaedah yang sangat berharga: “Hendaknya bagi siapa pun yang ingin berbicara, ia pikir-pikir terlebih dahulu, apabila ucapannya mengandung maslahat, maka silakan, apabila tidak, maka lebih baik diam.”

    Nabi Muhammad SAW sangat peduli terhadap umatnya dan tidak ingin mereka terjerumus ke dalam neraka. Oleh karena itu, beliau mengajarkan cara agar umatnya terhindar dari api neraka. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan: “Jauhilah neraka meski dengan [bersedekah] sepotong kurma, jika tidak melakukannya, maka hendaklah (bersedekah) dengan tutur kata yang baik.” Hal ini menunjukkan betapa besar nilai dan pahala dari ucapan yang baik.

    Semoga kita semua dapat menjadi pribadi yang baik dalam perilaku dan tutur kata. Semoga kita digolongkan sebagai orang yang beriman, dan ingatlah bahwa orang yang beriman bukanlah mereka yang suka mencela maupun mengutuk, sebagaimana sabda Nabi: “Orang yang beriman bukanlah orang yang suka mencela dan mengutuk.”

    • Doa Penutup Khutbah I:
      “Barakallahu li wa lakum fil-Qur’anil ‘adhim wa nafa’ani wa iyyakum bima fiihi min ayatin wa dhikril hakim. Aqulu qawli hadza fastaghfirullaha al-‘adhim innahu huwal ghafurur Rahim.”


Khutbah II: Doa dan Ajakan untuk Kebaikan

  • Pembukaan dan Shalawat:
    Khutbah kedua diawali dengan kembali memuji Allah SWT dan bersaksi atas keesaan-Nya serta kerasulan Nabi Muhammad SAW. Khatib kemudian mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa bertakwa kepada Allah, karena sesungguhnya orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang yang beruntung. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an yang memerintahkan kita untuk bersalawat kepada Nabi: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi, hai orang-orang yang beriman bershalawatlah kamu untuknya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.” (QS. Al-Ahzab: 56). Khatib mengajak untuk bersalawat kepada Nabi Muhammad SAW dan keluarganya.

  • Doa untuk Umat dan Bangsa:
    Dalam khutbah kedua ini, khatib memanjatkan doa-doa spesifik untuk kebaikan umat Islam dan bangsa Indonesia. Doa-doa ini meliputi permohonan ampunan bagi seluruh mukminin dan mukminat, muslimin dan muslimat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.

    Selain itu, doa juga dipanjatkan agar Allah SWT senantiasa menjauhkan kita dari berbagai macam cobaan, bencana, wabah penyakit, keruntuhan, gempa bumi, fitnah, dan segala macam musibah yang terlihat maupun yang tersembunyi. Doa ini secara khusus ditujukan untuk negara Indonesia dan seluruh negeri-negeri Muslim di seluruh dunia, memohon agar senantiasa dilindungi oleh Allah SWT.

  • Memohon Petunjuk dan Perlindungan:
    Doa dilanjutkan dengan permohonan agar Allah SWT senantiasa menunjukkan kepada kita kebenaran sebagai kebenaran dan menganugerahkan kita kemampuan untuk mengikutinya. Sebaliknya, kita juga memohon agar diperlihatkan kebatilan sebagai kebatilan dan dianugerahi kemampuan untuk menjauhinya.

    Doa untuk kebaikan di dunia dan akhirat juga dipanjatkan, sebagaimana tercantum dalam Surat Al-Baqarah ayat 201: “Rabbana atina fid-dunya hasanah wa fil-akhirati hasanah wa qina ‘adzabannar.” (Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan lindungilah kami dari siksa neraka).

  • Ajakan untuk Mengingat Allah dan Bersyukur:
    Sebagai penutup, khatib mengingatkan kembali pentingnya mengingat Allah SWT. “Wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya Allah memerintahkan kamu sekalian untuk berbuat adil dan berbuat baik, serta memberikan pertolongan kepada kerabat; dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan perbuatan durjana. Dia memberikan pelajaran kepadamu agar kamu sekalian mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl: 90).

    Ditekankan pula bahwa dengan mengingat Allah SWT, kita akan diingat oleh-Nya. Dengan bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya, Allah akan menambah nikmat tersebut. Dan sesungguhnya zikir kepada Allah adalah hal yang paling besar.

    • Penutup:
      “Walhamdulillahirrabbil ‘alamin.”