Ketegangan Politik dan Perang Informasi: Dibalik Bocoran Percakapan Trump-Netanyahu
Sebuah bocoran percakapan telepon yang diwarnai amarah antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah menggemparkan dunia internasional. Laporan yang bersumber dari kalangan anonim ini mengungkap adanya ketegangan dan perselisihan antara kedua pemimpin mengenai eskalasi konflik Israel di Lebanon.
Menurut laporan yang beredar, Trump dilaporkan melontarkan kata-kata kasar, menyebut Netanyahu “sangat gila” dan mencaci maki perdana menteri Israel tersebut atas peningkatan ketegangan di perbatasan Lebanon. Insiden ini terjadi bertepatan dengan serangan Israel yang menewaskan enam orang, termasuk dua anak, di kota al-Marwaniyah, Lebanon selatan.
Kebijakan Tetap Menjadi Kunci, Terlepas dari Retorika
Meskipun bocoran perselisihan dan kata-kata kasar antara Trump dan Netanyahu menarik perhatian publik, para ahli menilai bahwa kebijakan yang sebenarnya dijalankan oleh kedua negara tetaplah yang paling krusial. Menurut Ryan Costello, Direktur Kebijakan di National Iranian American Council Action (NIAC), para pengamat politik semakin “mengejek” laporan mengenai kemarahan tertutup Trump terhadap Netanyahu.
“Yang benar-benar penting adalah apa yang sebenarnya terjadi dalam praktiknya,” ujar Costello. Ia berpendapat bahwa kebocoran percakapan ini kemungkinan besar memiliki motif tersembunyi, yaitu sebagai sinyal kepada Iran. “Saya melihat ini terutama sebagai sinyal kepada Iran bahwa Trump serius, dan dia ingin memisahkan apa yang terjadi di Lebanon dan serangan Israel dari negosiasi Iran,” jelasnya. Costello juga menambahkan bahwa masih perlu diamati sejauh mana kecaman tersebut benar-benar telah menyebabkan perubahan kebijakan Israel, dan ia menduga ada insentif kuat bagi Netanyahu untuk terus menentang.
Pihak penerbit laporan, Axios, tetap membela pemberitaannya. “Kami tetap berpegang pada pemberitaan kami, yang kebetulan mencatat ‘Trump dan Netanyahu telah beberapa kali melakukan percakapan telepon yang tegang di masa lalu tetapi tetap berkoordinasi erat mengenai Iran dan isu-isu lainnya,’” demikian pernyataan juru bicara publikasi tersebut.
Trump Mengklaim Berhasil Mencegah Serangan Besar ke Beirut
Dalam salah satu momen yang menjadi sorotan, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa ia telah berhasil meyakinkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk membatalkan “serangan besar-besaran” ke Beirut, Lebanon. Trump menulis di platform media sosialnya, Truth Social, “Saya berbincang dengan Bibi Netanyahu hari ini, memintanya untuk tidak melakukan serangan besar-besaran ke Beirut, Lebanon. Dia memutar balik pasukannya. Terima kasih, Bibi!”
Namun, sumber militer Israel memberikan keterangan yang berbeda, menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada pasukan Israel yang sedang dalam perjalanan menuju Beirut, bertentangan dengan klaim Trump.
Trump juga mengklaim telah berbicara dengan perwakilan dari para pemimpin Hizbullah dan mereka setuju untuk menghentikan serangan terhadap Israel. “Demikian pula, Israel setuju untuk berhenti menembaki mereka. Mari kita lihat berapa lama itu akan bertahan — Semoga itu akan berlangsung selamanya!” imbuhnya.
Meskipun demikian, beberapa jam setelah pengumuman Trump mengenai gencatan senjata, Hizbullah dilaporkan menargetkan pasukan Israel di Lebanon selatan, memicu sirene di Israel utara. IDF pun dilaporkan melakukan serangan udara balasan di Lebanon. Unggahan Trump kembali tidak secara spesifik menyebutkan bahwa Israel setuju untuk menunda serangan ke wilayah di luar Beirut, meskipun Hizbullah mengklaim gencatan senjata tersebut mencakup seluruh negara.
Upaya Trump Meredakan Konflik Israel-Hizbullah
Dalam kesempatan lain, Donald Trump juga mengklaim bahwa Israel dan Hizbullah telah mencapai kesepakatan untuk mengurangi pertempuran setelah ia berbicara dengan Benjamin Netanyahu dan berkomunikasi dengan kelompok militan Lebanon tersebut melalui mediator. Trump mengumumkan perkembangan ini melalui unggahan media sosialnya setelah melakukan panggilan telepon dengan Netanyahu.
Klaim Trump ini muncul di tengah laporan bahwa pasukan Israel telah melakukan invasi terdalam ke Lebanon dalam lebih dari seperempat abad. Trump menyatakan bahwa tidak akan ada pasukan Israel yang “pergi ke Beirut” dan mereka yang sedang dalam perjalanan “telah dipulangkan.” Ia menambahkan bahwa Hizbullah telah “sepakat bahwa semua penembakan akan berhenti – bahwa Israel tidak akan menyerang mereka, dan mereka tidak akan menyerang Israel.”
Menanggapi klaim tersebut, Netanyahu membenarkan adanya percakapan dengan Trump, namun ia menafsirkannya bukan sebagai bentuk pengekangan, melainkan lebih sebagai peringatan. Netanyahu menyatakan bahwa ia telah memberi tahu Trump bahwa Israel akan menyerang target di Beirut, ibu kota Lebanon, jika serangan Hizbullah tidak berhenti. “Militer Israel akan terus beroperasi sesuai rencana di Lebanon selatan,” kata Netanyahu, mengutip AP News.
Konteks Gencatan Senjata dan Upaya Diplomatik
Perlu dicatat bahwa kedua belah pihak, Israel dan Hizbullah, telah berada di bawah gencatan senjata sejak pertengahan April 2026. Namun, Hizbullah melanjutkan serangan setelah serangan Israel di Lebanon yang oleh Israel digambarkan sebagai tindakan pembelaan diri. Pertempuran ini juga menjadi hambatan signifikan dalam kesepakatan yang sedang dirancang untuk memperpanjang gencatan senjata dalam perang Iran, di mana Teheran menginginkan agar setiap perjanjian mencakup Lebanon.
Otoritas Lebanon dilaporkan memperoleh persetujuan Hizbullah atas usulan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, yang menyatakan bahwa Israel tidak akan menyerang pinggiran selatan Beirut, dan Hizbullah tidak akan menyerang Israel utara. Hal ini disampaikan melalui pernyataan yang dikeluarkan oleh Kedutaan Besar Lebanon untuk AS.
Namun, tak lama setelah pesan Trump, Israel mendeteksi peluncuran rudal dari Lebanon dan memperingatkan warga Israel di sebagian wilayah utara untuk berlindung. Pembicaraan antara Israel dan Lebanon dijadwalkan pada hari Selasa dan Rabu di Washington, di mana para negosiator Lebanon berharap dapat memperluas cakupan wilayah yang tidak akan diserang di negara tersebut seiring upaya mereka mencapai gencatan senjata total.






















