Aktivitas Gunung Merapi: Guguran Lava dan Peringatan Siaga Tetap Berlaku
YOGYAKARTA – Gunung Merapi, salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah, terus menunjukkan aktivitas yang perlu diwaspadai. Berdasarkan pemantauan terkini yang dilakukan oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, tercatat adanya sejumlah fenomena geologis yang signifikan.
Periode pengamatan yang mencakup Rabu, Juni 2026, mulai pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, mengungkapkan bahwa Gunung Merapi mengalami 6 kali guguran lava. Guguran lava ini meluncur ke arah Kali Sat/Putih dengan jarak luncur maksimum mencapai 2000 meter. Fenomena ini mengindikasikan adanya pergerakan magma yang terus berlangsung di dalam tubuh gunung.
Selain guguran lava, aktivitas kegempaan juga tercatat cukup tinggi. Selama periode pengamatan tersebut, tercatat 31 kali gempa guguran. Gempa-gempa ini memiliki amplitudo yang bervariasi antara 2 hingga 14 mm, dengan durasi yang cukup panjang, berkisar antara 51.56 hingga 164.02 detik. Durasi gempa guguran yang panjang ini seringkali berkaitan dengan pergerakan material di lereng gunung.
Lebih lanjut, BPPTKG Yogyakarta mencatat 40 kali gempa hybrid atau gempa fase banyak. Gempa jenis ini dicirikan dengan amplitudo antara 2 hingga 29 mm, dan fase S-P (jarak antara gelombang primer dan sekunder) yang tidak teramati. Lama gempa hybrid ini berkisar antara 9.68 hingga 32.84 detik. Gempa hybrid seringkali mengindikasikan adanya pergerakan fluida (gas dan magma) di dalam saluran vulkanik.
Tidak hanya itu, tercatat pula 1 kali gempa vulkanik dangkal dengan amplitudo 23 mm dan durasi 17.1 detik. Kehadiran gempa vulkanik dangkal ini menjadi indikator adanya aktivitas magma yang dekat dengan permukaan. Selain itu, 1 kali gempa tektonik jauh juga terdeteksi dengan amplitudo 4 mm, durasi 54.23 detik, dan fase S-P yang tidak teramati. Gempa tektonik jauh ini berasal dari aktivitas sesar di luar area vulkanik Merapi.
Hingga saat ini, BPPTKG Yogyakarta masih mempertahankan status Level III (Siaga) untuk Gunung Merapi. Status ini ditetapkan berdasarkan analisis data pemantauan yang terus menerus dilakukan.
Kondisi Visual dan Cuaca Gunung Merapi
Secara visual, kondisi Gunung Merapi teramati jelas. Asap kawah utama terlihat berwarna putih dengan intensitas tipis, membumbung tinggi sekitar 100 meter dari puncak gunung. Kondisi visual ini memberikan gambaran tentang aktivitas termal dan pelepasan gas di dalam kawah.
Cuaca di sekitar Gunung Merapi pada periode pengamatan dilaporkan cerah. Angin bertiup tenang ke arah barat. Suhu udara tercatat sekitar 18°C, dengan kelembaban udara mencapai 88 persen. Tekanan udara berada pada angka 917 mmHg. Kondisi cuaca yang mendukung ini memfasilitasi pengamatan visual terhadap aktivitas gunung.
Rekomendasi dan Potensi Bahaya
BPPTKG Yogyakarta mengeluarkan rekomendasi penting terkait potensi bahaya yang masih mengancam di sekitar Gunung Merapi. Potensi bahaya utama saat ini meliputi guguran lava dan awan panas.
Sektor Selatan-Barat Daya:
- Sungai Boyong: Berpotensi terdampak guguran lava dan awan panas hingga jarak maksimal 5 km dari puncak.
- Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng: Berpotensi terdampak hingga jarak maksimal 7 km dari puncak.
Sektor Tenggara:
- Sungai Woro: Berpotensi terdampak hingga jarak maksimal 3 km dari puncak.
- Sungai Gendol: Berpotensi terdampak hingga jarak maksimal 5 km dari puncak.
Selain itu, lontaran material vulkanik dalam skenario letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak. Data pemantauan yang ada menunjukkan bahwa suplai magma ke permukaan masih terus berlangsung. Hal ini berpotensi memicu terjadinya awan panas guguran di dalam area potensi bahaya yang telah ditetapkan.
Masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah Gunung Merapi diimbau untuk senantiasa waspada dan mematuhi rekomendasi yang dikeluarkan oleh BPPTKG. Aktivitas apapun di dalam daerah potensi bahaya harus dihindari. Waspada terhadap potensi bahaya lahar, terutama saat terjadi hujan di puncak dan hulu Sungai Merapi. Awan Panas Guguran (APG) juga menjadi ancaman serius yang perlu diantisipasi.
BPPTKG Yogyakarta menegaskan bahwa jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan pada Gunung Merapi, tingkat aktivitas gunung ini akan segera ditinjau kembali dan diinformasikan kepada publik. Keselamatan masyarakat adalah prioritas utama dalam menghadapi aktivitas vulkanik ini.














