Pesan Pancasila Dedi Mulyadi: Keadilan untuk Desa

Peringatan Hari Lahir Pancasila yang jatuh setiap tanggal 1 Juni selalu menjadi momen penting bagi bangsa Indonesia. Lebih dari sekadar kegiatan seremonial, hari penting ini menjadi pengingat akan lahirnya dasar negara sekaligus penegasan kembali komitmen seluruh rakyat untuk mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Semangat persatuan dalam keberagaman, yang menjadi fondasi bangsa Indonesia, kembali digaungkan.

Dalam rangka memperingati momen krusial ini, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyampaikan pesan penting yang menyentuh hati melalui akun media sosialnya. Pesan tersebut tidak hanya menyoroti makna hakiki dari Pancasila, tetapi juga menggarisbawahi pentingnya keadilan dan peran masyarakat desa dalam menjaga serta mempraktikkan ideologi bangsa.


Pesan yang disampaikan Dedi Mulyadi melalui akun Instagramnya, @dedimulyadi71, pada 1 Juni 2026, bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila, tertuang dalam sebuah video singkat. Dalam video tersebut, beliau terlihat sedang berjalan santai di lingkungan sekitar kediamannya, sembari merenungkan dan menyampaikan gagasan-gagasannya mengenai Pancasila.

Menurut Dedi Mulyadi, esensi peringatan Hari Lahir Pancasila tidak boleh berhenti pada acara-acara seremonial semata. Makna sesungguhnya tercermin dalam tindakan dan perilaku sehari-hari. Beliau secara khusus menyoroti masyarakat desa sebagai representasi nyata dari praktik ideologi Pancasila. Nilai-nilai luhur seperti gotong royong dan kebiasaan berkumpul untuk menyelesaikan masalah secara bersama, menurutnya, masih sangat kental dijumpai di kalangan masyarakat desa.

Esensi Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari

Dalam pesannya, Dedi Mulyadi mengungkapkan harapannya agar setiap individu dapat menjalani hidup yang dilandasi oleh nilai ketuhanan dan tenggang rasa terhadap sesama manusia. Beliau menekankan pentingnya kerja sama dan gotong royong dalam mewujudkan harapan, baik harapan pribadi, keluarga, maupun masyarakat.

“Hidup berkumpul setiap waktu, berbicara dan menyelesaikan masalah secara bersama dengan asas musyawarah untuk mufakat,” ujar Dedi Mulyadi, menekankan pentingnya musyawarah mufakat yang merupakan salah satu pilar demokrasi Pancasila.

Lebih lanjut, beliau menyinggung soal keadilan yang menjadi salah satu sila fundamental dalam Pancasila. Keadilan yang dimaksud tidak hanya bersifat material, tetapi juga immaterial. “Mendistribusikan rasa adil untuk semua baik adil secara material atau immaterial itulah mimpi dalam kehidupan bernegara dan berpancasila,” tegasnya.

Masyarakat Desa sebagai Pelaku Pancasila Sejati

Pernyataan Dedi Mulyadi yang paling menggugah adalah ketika ia mengaitkan mimpi-mimpi ideal Pancasila tersebut dengan kehidupan masyarakat desa. Ia berpendapat bahwa justru di desa-desa, di kampung-kampung yang terkadang dianggap terpencil, terbelakang, bahkan direndahkan sebagai masyarakat yang jauh dari peradaban, nilai-nilai Pancasila justru terasa hidup.

“Seluruh mimpi itu terasa hidup justru di desa, di kampung yang dianggap terpencil, kadang dianggap terbelakang, dan kadang direndahkan sebagai masyarakat yang jauh dari peradaban. Padahal justru pada diri mereka lah kehidupan pancasila itu hidup dalam jiwa, dalam nafas dan dalam perilaku,” ungkap Dedi Mulyadi.

Pernyataan ini menyiratkan bahwa masyarakat desa, dengan segala kesederhanaannya, telah secara alami menginternalisasi dan mempraktikkan nilai-nilai Pancasila dalam keseharian mereka, jauh sebelum istilah Pancasila itu sendiri digaungkan secara luas. Gotong royong, musyawarah, dan rasa kebersamaan yang kuat adalah cerminan langsung dari sila-sila Pancasila.

Harapan untuk Masa Depan Bangsa

Menjelang akhir pesannya, Dedi Mulyadi menyampaikan harapan mendalam di Hari Lahir Pancasila. Ia berharap agar peringatan ini dapat menyadarkan seluruh masyarakat Indonesia.

“Semoga di Hari Lahir Pancasila menyadarkan kita semua bahwa Pancasila bukan hiasan ruang kerja, Pancasila bukan ucapan di upacara, tapi Pancasila ialah kehidupan yang tumbuh dalam diri dan masyarakat,” tegasnya.

Beliau menutup dengan doa dan harapan agar seluruh masyarakat Indonesia dapat hidup rukun, berpegang teguh pada ideologi, falsafah, serta senantiasa berbangsa dan bernegara berdasarkan Pancasila. “Semoga kita hidup rukun, berideologi, berfalsafah, berbangsa, dan bernegara Pancasila,” pungkas pria yang akrab disapa KDM tersebut.

Pesan menohok dari Gubernur Jawa Barat ini sontak menuai beragam reaksi dari para netizen. Banyak yang menyatakan persetujuan dan kekaguman atas pandangan Dedi Mulyadi yang dianggap tulus dan bijaksana. Komentar-komentar positif mengalir, mengapresiasi kedalaman pemikirannya mengenai Pancasila dan relevansinya dalam kehidupan masyarakat Indonesia, terutama di pedesaan.