Penelitian mengungkap variasi genetik hantavirus pada tikus Asia

Penelitian Internasional Mengungkap Persebaran dan Keragaman Genetik Hantavirus pada Celurut Rumah Asia

Sebuah penelitian internasional yang melibatkan para peneliti Indonesia mengungkap persebaran dan keragaman genetik hantavirus pada celurut rumah Asia (Suncus murinus) di berbagai wilayah Asia. Studi ini dilakukan oleh sejumlah peneliti, salah satunya adalah Ibnu Maryanto dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang saat itu masih bekerja di Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bogor.

Makalah ilmiah hasil penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Cellular and Infection Microbiology pada 27 Agustus 2020 dengan judul “Genetic Diversity and Phylogeography of Thottapalayam thottimvirus (Hantaviridae) in Asian House Shrew (Suncus murinus) in Eurasia.” Dalam penelitian tersebut, para peneliti menelusuri persebaran Thottapalayam thottimvirus (TPMV), salah satu jenis hantavirus yang dibawa oleh celurut rumah Asia.

Selama ini, rodensia seperti tikus dan cricetid dianggap sebagai inang utama hantavirus. Namun, baru-baru ini beberapa jenis hantavirus baru ditemukan pada celurut, tikus mondok, dan kelelawar, yang menunjukkan bahwa evolusi virus ini lebih kompleks dari yang sebelumnya dipahami.

Analisis Sampel Jaringan Paru Celurut

Tim peneliti melakukan analisis terhadap 198 sampel jaringan paru celurut dari berbagai negara di Asia. Dari seluruh sampel tersebut, hanya dua yang terdeteksi mengandung RNA hantavirus. Satu sampel berasal dari Pakistan, sedangkan satu lagi dari Myanmar, keduanya dikumpulkan pada tahun 2013. Sampel Pakistan diambil dari Karachi, sementara sampel Myanmar diambil dekat peternakan sapi di Taunggyi, Negara Bagian Shan.

Hasil analisis menunjukkan bahwa strain TPMV Myanmar bernama H2763 memiliki kedekatan genetik dengan strain prototipe TPMV VRC66412 dari India Selatan. Sementara itu, strain Pakistan PK3629 menjadi yang paling berbeda dalam pohon filogenetik segmen-L dibandingkan dengan strain lain dari Nepal, India, Myanmar, dan Tiongkok.

Pola Persebaran dan Adaptasi Lokal

Penelitian juga menemukan bahwa strain TPMV cenderung mengelompok berdasarkan wilayah geografis. Strain dari India dan Myanmar berada dalam satu kelompok, sedangkan strain dari Tiongkok membentuk kelompok tersendiri. Temuan ini menunjukkan adanya adaptasi lokal antara virus dan inangnya di berbagai wilayah Asia.

Pada tingkat nukleotida, strain TPMV Myanmar memiliki kemiripan sekuens sebesar 79,3–96,1 persen dibandingkan dengan strain dari Nepal, India, Pakistan, dan Tiongkok. Namun, pada tingkat asam amino, tingkat konservasinya tetap tinggi, yaitu lebih dari 94 persen.

Hubungan Evolusi antara Celurut Rumah Asia dan Celurut Dataran Tinggi Asia

Analisis filogenetik juga menunjukkan hubungan evolusi yang kompleks antara celurut rumah Asia (Suncus murinus) dan celurut dataran tinggi Asia (Suncus montanus). Berdasarkan analisis DNA mitokondria dan DNA nuklir, peneliti menyebut bahwa kedua hewan ini mungkin membentuk kompleks spesies hibrida.

Dalam pembahasannya, peneliti menjelaskan bahwa celurut rumah Asia tersebar luas di Asia, Pasifik, Afrika, dan Timur Tengah. Hewan ini hidup dekat permukiman manusia dan diduga ikut menyebar melalui aktivitas perdagangan dan perpindahan manusia sejak lama, mirip dengan tikus genus Rattus.

Keterkaitan dengan Asal Usul Hantavirus

Studi ini memperkuat dugaan bahwa hantavirus mungkin pertama kali berevolusi pada celurut, bukan pada rodensia seperti yang selama ini diyakini. Berdasarkan pola filogenetik, peneliti menduga bahwa asal-usul TPMV kemungkinan berada di anak benua India sebelum menyebar ke wilayah Asia lain mengikuti persebaran inangnya. Hal ini memberikan wawasan baru tentang evolusi dan penyebaran hantavirus di kawasan Asia.