Perkembangan Kecerdasan Buatan di Tiongkok yang Mengubah Cara Masyarakat Beraktivitas
Kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI) kini tidak lagi hanya menjadi kompetisi antar negara dalam hal model AI yang paling canggih. Persaingan kini beralih pada seberapa cepat suatu negara mampu mengintegrasikan teknologi tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari dan dunia bisnis. Dalam konteks ini, Tiongkok terlihat lebih agresif dibandingkan Amerika Serikat (AS).
Di AS, penggunaan AI masih memicu berbagai perdebatan, seperti ancaman terhadap lapangan kerja, keamanan data, serta etika teknologi. Sebaliknya, di Tiongkok, teknologi ini sudah mulai diterapkan secara luas dalam aktivitas sehari-hari. Mulai dari memesan perjalanan, membeli makanan, hingga membantu pekerjaan administrasi dan layanan kesehatan.
Antrean Panjang untuk Mengakses Asisten AI “Agentic”
Pada April 2026, terjadi antrean panjang warga di depan kantor perusahaan internet seluler di Beijing demi mendapatkan bantuan memasang asisten AI bernama OpenClaw di laptop mereka. Kejadian serupa juga terjadi di Shenzhen pada Maret lalu ketika para insinyur membantu masyarakat mengoperasikan teknologi tersebut.
Sun Lei, seorang manajer sumber daya manusia berusia 41 tahun, mengungkapkan kekhawatirannya akan tertinggal dalam perkembangan teknologi. Ia berharap OpenClaw dapat membantu proses pencarian dan penyaringan lamaran kerja dari berbagai platform rekrutmen. Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat Tiongkok kini melihat AI sebagai alat produktivitas harian, bukan sekadar teknologi eksperimental.
Penggunaan AI yang Meningkat Pesat
Laporan China Internet Network Information Center menunjukkan bahwa lebih dari 600 juta warga Tiongkok telah menggunakan AI generatif hingga Desember 2025, meningkat 142 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Data OpenRouter juga menunjukkan bahwa penggunaan token mingguan model AI asal Tiongkok kini melampaui model buatan AS, menandakan intensitas penggunaan teknologi tersebut yang sangat tinggi.
Di Shanghai, Jason Tong, seorang pensiunan insinyur teknologi informasi, mengaku telah menggunakan chatbot AI seperti Doubao dan Kimi untuk berbagai kebutuhan sehari-hari. Bahkan, ia memanfaatkan layanan pemantauan gula darah berbasis AI guna memperoleh saran kesehatan personal secara cepat. Menurutnya, penerapan AI secara luas dalam kehidupan sehari-hari tidak bisa dihindari, seperti halnya kereta kuda yang akhirnya digantikan kereta api.
Perusahaan Teknologi Besar Tiongkok Berlomba Mengintegrasikan AI
Perkembangan AI di Tiongkok didorong oleh perusahaan teknologi besar seperti Tencent, Alibaba, dan Baidu yang berlomba mengintegrasikan AI ke dalam ekosistem digital mereka. Tencent, misalnya, telah menyematkan OpenClaw ke WeChat, aplikasi serbaguna yang digunakan masyarakat Tiongkok untuk berkirim pesan, melakukan pembayaran, hingga memesan makanan. Sementara itu, Alibaba juga mulai memasukkan AI berbasis agen ke dalam sistem operasional perusahaan.
Menurut Lizzi Lee, peneliti ekonomi dan teknologi dari Asia Society Policy Institute, arah persaingan AI global kini mengalami perubahan mendasar. “Persaingan AI jelas sedang bergeser dari model menuju ekosistem,” ujarnya. Menurutnya, pengguna di Tiongkok kini bertindak sebagai “penguji langsung dalam skala besar” yang mempercepat pengembangan teknologi AI secara nyata di lapangan.
OpenClaw: Teknologi yang Berkembang Pesat di Tiongkok
OpenClaw dikembangkan oleh pengembang perangkat lunak asal Austria, Peter Steinberger. Namun, di Tiongkok, teknologi ini berkembang pesat karena mampu menyelesaikan tugas kompleks secara otomatis. Mahasiswa asal Makau, Zhao Yikang, mengaku menggunakan AI untuk membuat video promosi hingga mengelola akun media sosial saat magang di perusahaan properti di Zhuhai.
Zhao bahkan meminta AI membuat situs perusahaan fotografi yang tengah dipersiapkannya setelah lulus kuliah. Dalam waktu sekitar 10 menit, sistem tersebut menghasilkan situs yang dapat langsung digunakan dengan biaya kurang dari 5 yuan atau sekitar Rp 12.710, menggunakan kurs Rp 2.542 per yuan.
Tiongkok Semakin Mendekati AS dalam Persaingan AI
Meski masih menghadapi hambatan akibat pembatasan ekspor cip canggih dari AS, sejumlah analis menilai kesenjangan teknologi AI kedua negara semakin menyempit. Laporan Stanford University Institute for Human-Centered AI bahkan menyebut jarak performa model AI papan atas Amerika Serikat dan Tiongkok “secara efektif telah tertutup.”
Lian Jye Su, kepala analis Omdia, mengatakan, “Tidak akan butuh waktu lama bagi Tiongkok untuk bertransformasi dari sekadar pengikut cepat menjadi inovator yang berdiri sejajar dengan AS dalam persaingan AI global.”






















