Karyawan Tribun Jateng Berpartisipasi dalam Reboisasi Hutan Lindung
Di pagi hari yang cerah, kawasan lereng Gunung Ungaran, Sabtu (25/4/2026), dihiasi oleh puluhan karyawan Tribun Jateng yang telah bersiap dengan alat-alat pertanian seperti cangkul dan sekop. Mereka juga membawa seratusan bibit tanaman yang akan ditanam di ketinggian sekitar 850 meter di atas permukaan laut (mdpl). Lokasi penanaman berada di Dusun Ngaglik, Desa Nyatnyono, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang.
Kegiatan ini bertajuk Reboisasi Hutan Lindung dan digelar di kawasan Puncak Suroloyo, salah satu dari tiga puncak utama Gunung Ungaran. Selain Puncak Botak dan Puncak Banteng/Raiders, Puncak Suroloyo menjadi lokasi utama kegiatan ini. Kegiatan ini dilakukan bekerja sama dengan organisasi Rimba Gunung Ungaran (Rimbaga), yang turut serta dalam menanam sedikitnya 130 bibit tanaman berbagai jenis, termasuk jambu, matoa, alpukat, tabebuya, hingga balsa.
General Manager (GM) Bisnis Tribun Jateng, Heru Budi Kuncara, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan HUT Ke-13 Tribun Jateng yang jatuh pada 29 April mendatang. Ia menyatakan bahwa tujuan dari kegiatan ini adalah untuk ikut berperan dalam menjaga kelestarian alam.
“Harapan kami, ke depan alam terjaga dengan baik dan manusia juga terlibat di dalamnya,” ujar Heru seusai kegiatan. Ia menekankan bahwa kegiatan kali ini difokuskan pada aksi nyata di alam terbuka, berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang lebih banyak digelar di kawasan perkotaan.
Pemilihan Jenis Tanaman yang Tepat
Ketua Rimbaga, Panca Budhiarto, menjelaskan bahwa lokasi penanaman mencakup area sekitar 1.200 meter. Sisa bibit yang belum ditanam akan dilanjutkan di titik-titik kritis lainnya hingga ketinggian sekitar 1.000 mdpl, termasuk di jalur setelah pos 1 pendakian. Pemilihan jenis tanaman bukan tanpa alasan. Selain untuk penghijauan, tanaman buah seperti alpukat dan jambu juga berfungsi sebagai “buffer alami” bagi satwa liar, termasuk kera ekor panjang.
“Kalau pakan di atas sulit, satwa biasanya turun ke pemukiman. Dengan adanya tanaman buah di sini, itu bisa jadi barrier alami untuk mengantisipasi konflik dengan warga dan perkebunan mereka,” jelas Panca.
Sementara itu, tanaman keras seperti balsa dan tabebuya memiliki peran penting dalam menjaga struktur tanah. Fungsinya untuk mengikat tanah dan menyimpan air, seperti spons untuk resapan. Hal ini sangat penting karena kawasan ini sebelumnya sempat terdampak longsor.
Hasil Tanaman untuk Semua
Yang menarik, hasil tanaman nantinya tidak dibatasi untuk kelompok tertentu. Baik warga, pendaki, maupun satwa liar dapat memanfaatkan buah yang tumbuh secara alami di kawasan tersebut. Anggota tim Rimbaga, Kay, menyebut kegiatan ini sebagai langkah kecil dengan dampak besar bagi masa depan lingkungan, terutama di wilayah Semarang yang kerap dilanda banjir.
Dia lebih menyoroti dan menyayangkan adanya aksi pembalakan liar oleh orang-orang tidak bertanggung jawab yang menyebabkan resapan air berkurang. “Akibatnya daerah bawah sering banjir. Reboisasi seperti ini penting banget, walaupun hasilnya tidak instan, tapi anak cucu kita nanti yang akan merasakan,” harap dia.
Edukasi Berbasis Konservasi
Tidak hanya fokus pada penanaman, Rimbaga juga mengembangkan konsep edukasi berbasis konservasi melalui basecamp mereka di Nyatnyono. Salah satu inovasinya adalah “rumah bibit”, tempat siapa saja bisa menyumbang atau mengambil bibit untuk ditanam saat mendaki. “Ke depan kami ingin pendaki tidak hanya naik gunung, tapi juga ikut menanam. Jadi konsepnya mendaki sambil menanam pohon,” ujar Kai.
Jalur pendakian via Rimbaga sendiri dikenal relatif singkat namun menantang, dengan estimasi waktu sekitar 2,5 hingga 3,5 jam menuju Puncak Suroloyo. Sepanjang perjalanan, pendaki akan melewati perkebunan kopi warga hingga hutan lindung yang masih asri, dengan panorama Kota Semarang dan pesisir utara dari ketinggian.
Selain itu, kawasan ini juga memiliki nilai budaya dan spiritual, dengan keberadaan situs-situs seperti makam tokoh leluhur dan sumber mata air yang dijaga kelestariannya. “Kami ingin lingkungan kami tetap lestari, penikmat alam seharusnya juga mencintai lingkungannya. Harapannya tidak ada sampah lagi di sini, sampah sekecil apa pun tetap harus dibuang ke tempat sampah yang dibawa oleh pengunjung,” imbuhnya.






















