Trian Bawa Luka Jadi Karya, “Ayah Ini Arahnya Ke Mana Ya?” Bikin Haru Penggemar di Ambon

Kehadiran Penulis Khoirul Trian di Ambon

Gramedia Ambon kembali menghadirkan penulis-penulis ternama di Indonesia. Salah satu yang sedang diminati oleh kalangan muda adalah buku berjudul “Ayah Ini Arahnya Ke Mana Ya?”. Buku ini memperoleh perhatian besar setelah viral dan menarik banyak pembaca, terutama anak muda. Tak disangka, buku yang begitu menyentuh hati ini ditulis oleh seorang pemuda bernama Khoirul Trian, yang biasa disapa Trian.

Trian lahir pada 26 September 1998, asal Lampung. Ia dikenal sebagai penulis dengan tema-tema yang sangat menyentuh, terutama mengangkat isu kehilangan. Setelah melakukan perjalanan ke berbagai daerah di Indonesia, kali ini Trian tiba di Kota Ambon untuk bertemu dengan penggemarnya.

Perjumpaan ini berlangsung selama tiga hari, mencakup berbagai acara seperti talkshow, bedah buku, cinema visit hingga meet and greet. Sesi meet and greet berlangsung di Gramedia Maluku City Mall (MCM), diikuti oleh puluhan penggemar. Acara ini menjadi momen yang paling dinantikan oleh para pembaca, karena memberikan kesempatan bagi mereka untuk curhat dan bertanya langsung kepada penulis.

Pantauan pada Sabtu (18/4/2026), acara ini dihadiri oleh berbagai kalangan. Saat sesi berlangsung, penulis dan penggemar duduk melantai saling berhadapan sambil mendengarkan cerita dari Trian. Ia mulai berbagi pengalamannya sebagai seorang penulis, termasuk bagaimana ia menulis buku yang mengangkat kisah hidupnya sendiri.

Setelah itu, para pembaca yang hadir mulai bertanya dan bercerita tentang perasaan mereka terhadap sosok ayah. Tak sedikit dari mereka yang harus menggunakan tisu untuk mengusap air mata saat bercerita. Sesi ini juga dilanjutkan dengan nasihat dan wejangan dari Trian.

Berawal dari Kisah Nyata Penulis

Buku “Ayah Ini Arahnya Ke Mana Ya?” merupakan kisah nyata yang diangkat dari pengalaman pribadi Trian. Ia kehilangan sosok ayah sejak kecil, dan buku ini menceritakan perjalanan emosionalnya dalam mencari makna hidup tanpa arah. Buku ini juga menggambarkan kerinduan, kebingungan, serta upaya Trian untuk berdamai dengan masa lalu dan trauma kehilangan.

Buku ini kini telah diadaptasi menjadi film yang telah dimodifikasi. Menurut Trian, film tersebut berangkat dari pengalamannya sendiri. Proses pembuatan buku dan film ini memakan waktu cukup lama, namun ia bersyukur semua tahapan telah dilalui hingga akhirnya bisa ditayangkan kepada publik.

Ia juga mengucapkan terima kasih kepada para pembaca yang sudah membaca bukunya dan menonton film adaptasinya. Ia merasa bahwa proses adaptasi dari buku ke film membutuhkan waktu yang cukup lama, tetapi semuanya terbayarkan dengan respons positif dari pembaca dan penonton.

Perjalanan Singkat Penuh Makna

Trian melakukan perjalanannya di Kota Ambon setelah beberapa tempat sebelumnya. Namun, ini bukan sekadar jalan-jalan, tetapi juga bentuk kecintaannya kepada pembaca bukunya. Perjalanan singkat ini penuh makna, sama seperti bukunya sendiri.

Saat tiba pertama kali di Ambon, Trian mengatakan bahwa yang paling ia sukai adalah laut. Ia mengaku kagum dengan panorama alam yang indah, terutama laut, sehingga membuatnya sulit untuk “move on”.

Sinopsis Buku Ayah Ini Arahnya Ke Mana Ya?

Buku yang memiliki tebal 164 halaman ini bergenre melodrama, mengisahkan perjalanan emosional seorang anak yang kehilangan sosok ayah. Isu fatherless menjadi tema utama dalam buku ini, yang menyebabkan si tokoh harus fokus pada kesepian, kebingungan, dan pencarian makna hidup tanpa bimbingan ayah.

Konflik batin ketika seorang anak harus kehilangan figur ayah yang memberikan arah hidup. Buku ini menjadi teman bagi pembaca dalam menemukan kembali arah hidup meski dalam ketidakpastian. Meskipun mengusung tema yang berat, buku ini sangat menyentuh hati kalangan Gen Z saat ini.

Buku ini menyajikan percakapan-percakapan serta refleksi yang mengajak pembaca untuk merenungkan kembali perjalanan hidup mereka. Meskipun mengangkat tema yang sedikit berat, buku ini mengajarkan keberlanjutan hidup meski penuh tantangan. Emosi pembaca akan dibawa naik turun hingga akhirnya bisa mencapai titik ikhlas dalam menerima perjalanan hidup.