JAKARTA, –
Kepanikan melanda sebuah keluarga yang seharusnya berbahagia di hari pernikahan mereka. Reza Sulistyanto, salah satu korban dari Wedding Organizer (WO) Ayu Puspita, menceritakan pengalaman pahitnya beberapa jam sebelum akad nikah yang seharusnya menjadi momen sakral dalam hidupnya. Minggu (7/12/2025) seharusnya menjadi hari yang tak terlupakan, namun berubah menjadi mimpi buruk akibat kelalaian WO yang mereka percayakan.
Reza menggunakan jasa WO Ayu Puspita melalui paket MW, yang merupakan vendor rekanan dari venue pilihan keluarganya, Alam Sutera Sports Center. Paket MW dipilih karena jumlah tamu undangan yang di bawah 500 orang, sesuai dengan kategori layanan yang ditawarkan.
“WO AP itu ada dua, BAP dan MW. Menurut klaim mereka, MW itu untuk katering dari 0 sampai 500 pax. Sedangkan BAP itu starting dari 500 pax ke atas. Tapi secara in-house, mereka itu sama,” jelas Reza.
Kejanggalan Sebelum Hari H
Sejak awal persiapan, Reza dan keluarga sudah merasakan beberapa kejanggalan. Salah satunya adalah pergantian Make-Up Artist (MUA) secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan yang jelas. Selain itu, respons dari admin WO juga seringkali terlambat, membuat mereka merasa khawatir.
Namun, meskipun ada beberapa kejanggalan, technical meeting dengan pihak WO berjalan lancar tanpa masalah yang berarti. “Enggak ada yang mencurigakan sama sekalilah. Secara teknis kelihatannya aman,” ungkap Reza.
Kabar Buruk di Malam Hari
Petaka mulai terjadi pada Sabtu (6/12/2025) malam, sekitar pukul 21.30 WIB. Reza menerima telepon dari admin WO Ayu Puspita yang terdengar sangat panik dan menangis.
“Pas ditelepon, tiba-tiba dia nangis-nangis,” kata Reza menirukan suara admin WO saat itu.
Admin tersebut mengabarkan bahwa katering untuk acara lain yang ditangani WO Ayu Puspita pada hari yang sama tidak datang. Ia juga mengaku sedang “dikejar-kejar” oleh keluarga klien yang merasa dirugikan.
Reza kemudian menanyakan bagaimana dengan acara akad nikahnya yang akan dilaksanakan keesokan pagi. Jawaban yang diterimanya sungguh mengejutkan dan membuatnya semakin panik.
“Dia bilang, ‘Kakak punya backup plan enggak?’. Ya secara pribadi, bayangin jam 10 malam, ditanya punya backup plan enggak? Ya enggak ada-lah sama sekali,” keluh Reza.
Tagihan Vendor Belum Dibayar
Setelah melakukan penelusuran lebih lanjut terkait pembayaran vendor, Reza menemukan fakta yang lebih mengejutkan. Sebagian besar tagihan vendor ternyata belum dibayarkan oleh pihak WO Ayu Puspita.
“Harga venue itu ada rinciannya Rp 55 juta. Yang baru dibayarkan dari dia hanya Rp 5.500.000,” ungkapnya dengan nada kecewa.
Dampak yang Lebih Luas
Masalah tidak hanya berhenti pada katering. Vendor lain seperti fotografer, MUA, dan penyedia hiburan juga belum menerima pelunasan pembayaran dari pihak WO. Akibatnya, Reza dan keluarga harus menghadapi berbagai masalah yang tidak terduga.
Karena venue belum dilunasi, Reza tidak dapat langsung menggunakan ruangan yang sebelumnya sudah dipesan. Ia dan keluarga akhirnya memutuskan untuk tetap menggelar akad nikah dengan menutupi kekurangan pembayaran secara mandiri.
“Total aku nambah sendiri pribadi ke venue itu mungkin sekitar Rp 1,5 juta,” ungkapnya.
Untuk konsumsi tamu undangan, Reza terpaksa membeli makanan cepat saji sendiri tanpa bantuan dari pihak WO.
“Katering akhirnya dari aku sendiri, aku beli sendiri. Kemarin aku kalau beli tuh Rp 4,5 juta untuk 100-an orang,” katanya.
Selain itu, ia juga harus menambah anggaran sekitar Rp 1,5 juta untuk dekorasi sederhana agar akad nikah tetap bisa berlangsung dengan layak.
Laporan ke Pihak Berwajib
Setelah acara akad nikah selesai, Reza memutuskan untuk bergabung dengan para korban lainnya dan membuat laporan ke Polres Jakarta Utara pada Minggu malam.
“Aku tadi malam itu sekitar jam 22.00 WIB, aku bikin laporan ke Polres Jakarta Utara,” tuturnya.
Reza menolak opsi penjadwalan ulang yang mungkin ditawarkan oleh pihak WO. Ia menuntut pertanggungjawaban penuh, termasuk pengembalian dana dan seluruh kerugian tambahan yang telah dialaminya.
“Soalnya omongan ke akunya sampai detik ini aja pun enggak ada sama sekali,” imbuhnya dengan nada kesal.
Daftar Kerugian yang Dialami Reza dan Keluarga:
Keterlambatan pembayaran venue yang menyebabkan acara terhambat.
Ketiadaan katering yang memaksa keluarga membeli makanan cepat saji sendiri.
- Hal ini menyebabkan biaya tambahan sebesar Rp 4,5 juta untuk 100 orang tamu.
Dana tambahan untuk dekorasi sederhana agar acara tetap layak.
- Reza mengeluarkan biaya tambahan sekitar Rp 1,5 juta untuk dekorasi.
Ketidakpastian dan stres yang dialami oleh keluarga akibat kelalaian WO.
Kerugian finansial akibat vendor lain yang belum dibayar oleh WO.
Kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi Reza dan keluarga, serta bagi masyarakat luas untuk lebih berhati-hati dalam memilih jasa wedding organizer. Reputasi dan kredibilitas WO harus menjadi pertimbangan utama agar kejadian serupa tidak terulang kembali.























