Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terus berupaya meningkatkan literasi dan inklusi keuangan di wilayahnya. Berbagai program dan strategi telah dilaksanakan, dengan fokus utama pada kelompok perempuan dan pelajar.
Fokus pada Kelompok Perempuan
Donna Bella Permata Rissi, Manajer Madya Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, Pelindungan Konsumen, dan LMS OJK NTT, menjelaskan bahwa perempuan menjadi salah satu fokus utama OJK karena masuk dalam kategori kelompok rentan secara sosial ekonomi. Hal ini mendorong OJK untuk secara khusus merancang program literasi dan inklusi keuangan yang menyasar kelompok perempuan.
Sejak tahun 2023 hingga 2025, OJK NTT telah melaksanakan sebanyak 185 kegiatan literasi dan inklusi keuangan yang secara khusus ditujukan untuk perempuan. Kegiatan ini telah menjangkau 18.125 peserta perempuan yang tersebar di berbagai kabupaten/kota di NTT. Mayoritas kegiatan tersebut dilaksanakan di wilayah pedesaan, mengingat kesenjangan literasi dan akses keuangan di tingkat akar rumput masih cukup signifikan.
Meskipun angka partisipasi terus menunjukkan peningkatan, Donna Bella menekankan bahwa jumlah tersebut masih relatif kecil jika dibandingkan dengan total populasi perempuan di NTT yang mencapai lebih dari dua juta jiwa. Oleh karena itu, program literasi untuk perempuan akan terus diperluas dan dilanjutkan hingga tahun-tahun mendatang.
Perkembangan Literasi Keuangan Perempuan
Donna Bella juga menyampaikan bahwa hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan tahun 2025 menunjukkan perkembangan yang positif. Untuk pertama kalinya, indeks literasi keuangan perempuan di NTT lebih tinggi dibandingkan laki-laki, yaitu 66,75, sementara laki-laki berada pada angka 64.
Namun demikian, kesenjangan antara tingkat literasi dan tingkat inklusi perempuan masih cukup besar, yaitu selisih 9 persen. Selisih ini mencerminkan adanya kelompok perempuan yang sudah memiliki akses keuangan, tetapi belum sepenuhnya memahami produk dan layanan keuangan yang mereka gunakan. Menurut Donna Bella, selisih 9 persen ini setara dengan kebutuhan intervensi dan pendampingan yang sangat besar dari sisi program maupun anggaran.
OJK NTT pun menyiapkan pendekatan dari hulu ke hilir, mulai dari pendampingan dasar, akses perbankan, pembukaan akses pasar bagi pelaku usaha perempuan, hingga penguatan produk dan usaha. OJK juga terus berupaya memastikan pendampingan menjangkau wilayah pedesaan yang masih menghadapi berbagai keterbatasan.
Program Literasi Keuangan untuk Pelajar
Selain kelompok perempuan, OJK juga memberikan perhatian khusus pada program literasi keuangan bagi pelajar di NTT. Melalui berbagai gerakan seperti OJK Goes to School, OJK Goes to Campus, Gerakan Nasional Cerdas Keuangan, dan kampanye Hari Indonesia Menabung, OJK terus mendorong pelajar untuk memiliki rekening sejak dini.
OJK menargetkan bahwa pada tahun 2045, sebanyak 90 persen pelajar di NTT sudah memiliki minimal satu rekening bank, sejalan dengan program Satu Rekening Satu Pelajar (Kejar). Untuk mendukung literasi keuangan di kalangan generasi Z dan Alpha yang sangat akrab dengan teknologi, OJK menyediakan Learning Management System (LMS) sebagai platform pembelajaran mandiri.
Learning Management System (LMS) OJK
Melalui LMS OJK, pelajar dapat mengakses sebelas modul edukasi keuangan secara gratis. Modul-modul tersebut dirancang untuk memberikan pemahaman yang komprehensif tentang berbagai aspek keuangan, mulai dari menabung, berinvestasi, hingga mengelola utang.
Setelah menyelesaikan post-test dengan nilai minimal 80, peserta akan memperoleh sertifikat resmi dari OJK. Sertifikat ini dapat menjadi nilai tambah dalam kebutuhan akademik maupun saat melamar pekerjaan di industri jasa keuangan.
Peran Media dalam Meningkatkan Literasi Keuangan
Di akhir penjelasannya, Donna Bella menegaskan bahwa seluruh upaya dan program yang dijalankan OJK tidak akan efektif tanpa dukungan dari berbagai pihak. Media memiliki peran strategis sebagai perpanjangan tangan OJK dalam menyebarkan informasi yang benar dan edukatif kepada masyarakat.
Kerja sama antara OJK dan media menjadi kunci untuk meningkatkan literasi keuangan masyarakat NTT, terutama dalam mendorong generasi muda menjadi generasi yang lebih sadar, mandiri, dan cakap secara finansial. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang keuangan, masyarakat NTT diharapkan dapat membuat keputusan keuangan yang lebih bijak dan meningkatkan kesejahteraan mereka.























