JAKARTA,
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memasuki perdagangan awal pekan ini, Senin (10/11/2025), dengan kenaikan yang signifikan. Pada pembukaan perdagangan, indeks tercatat naik ke level 8.443,32 dan bergerak dalam kisaran antara 8.425,17 hingga 8.446,30. Pada akhir sesi, IHSG bertahan di posisi 8.436,89, atau menguat sebesar 0,50 persen setara 42,3 poin dibandingkan penutupan sebelumnya.
Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 305 saham menguat, sementara 182 saham melemah dan 187 saham lainnya stagnan. Volume transaksi mencapai 4,53 miliar lembar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp 1,40 triliun. Total transaksi tercatat sebanyak 223.695 kali.
Kenaikan IHSG pada awal sesi menunjukkan bahwa sentimen positif di pasar masih cukup kuat. Hal ini terjadi meskipun ada kekhawatiran global akibat shutdown pemerintahan Amerika Serikat (AS) dan pelemahan data tenaga kerja AS. Investor domestik menjadi salah satu faktor utama yang mendukung penguatan indeks, terutama melalui aksi beli pada saham-saham sektor keuangan, konsumsi, dan energi.
Reydi Octa, pengamat pasar modal, menilai bahwa meskipun tekanan global sedang terjadi, IHSG masih mampu bertahan dengan kuat karena dominasi investor domestik. Ia menjelaskan bahwa investor asing biasanya akan lebih hati-hati dan menahan posisi mereka di aset berisiko ketika data ketenagakerjaan AS menunjukkan pelemahan. Hal ini disebabkan oleh kekhawatiran terhadap penurunan pendapatan dan prospek ekonomi global.
Shutdown pemerintahan AS juga memperkuat sikap kehati-hatian investor global dalam mengambil risiko. Namun, untuk pasar saham Indonesia, Reydi memastikan dampaknya tidak akan terlalu besar. Selama beberapa pekan terakhir, investor asing telah melakukan aksi jual bersih dalam jumlah besar, sehingga pergerakan IHSG saat ini lebih banyak didorong oleh investor domestik.
Kondisi ini membuat IHSG cenderung stabil dan tidak mudah terpengaruh oleh gejolak eksternal. Reydi memperkirakan bahwa shutdown AS hanya akan memicu koreksi sesaat di pasar saham dalam negeri, tanpa mengubah tren besar pergerakan IHSG.
“Di IHSG, karena investor asing net sell besar-besaran pada periode sebelumnya, hal ini membuat IHSG mayoritas ditopang oleh investor domestik, sehingga menurut saya mungkin tidak akan mengubah tren besar, tapi hanya akan menimbulkan koreksi sesaat,” ujar Reydi kepada .
Meski demikian, ia tidak menutup kemungkinan bahwa aksi jual asing bisa kembali meningkat, apabila investor global memutuskan untuk mengurangi eksposur terhadap aset berisiko demi meminimalisir potensi kerugian. Sebaliknya, jika The Federal Reserve (The Fed) menanggapi pelemahan data ketenagakerjaan sebagai alasan untuk mengambil kebijakan yang lebih longgar atau bersikap dovish, justru bisa muncul peluang arus dana asing kembali masuk ke pasar negara berkembang seperti Indonesia.
Dalam kondisi itu, IHSG berpotensi mendapatkan dorongan tambahan dari sentimen positif global. “Potensi asing akan net sell ke depan meningkat apabila investor global mengambil keputusan untuk meminimalisir risiko, tetapi apabila The Fed menanggapi pelemahan tenaga kerja sebagai momentum dovish, bisa potensi memunculkan aliran dana masuk ke emerging market seperti IHSG,” paparnya.























