Pernyataan Mahfud MD tentang Dugaan Mark Up Anggaran Kereta Cepat Jakarta-Bandung
Pernyataan mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD mengenai dugaan penggelembungan anggaran (mark up) pada proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (Whoosh) kini mendapat respons dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Mahfud MD menyampaikan bahwa proyek Whoosh akhirnya berjalan meskipun kini menanggung beban utang yang besar.
Menurut Mahfud, megaproyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung yang diberi nama Whoosh diduga kuat anggarannya dimark-up beberapa kali lipat. Informasi ini berasal dari sumber terpercaya yang ia dapatkan. Hal ini juga diperkuat oleh pernyataan pengamat ekonomi Agus Pambagyo dan Anthony Budiawan di salah satu televisi swasta beberapa waktu lalu, yang akhirnya mengonfirmasi apa yang telah ia dengar sejak 5 tahun lalu.
“Apapun yang dulu sudah terberitakan atau 5 tahun lalu sudah terberitakan luas, sekarang dikonfirmasi langsung,” kata Mahfud MD dalam channel YouTube Mahfud MD Official miliknya yang tayang, Selasa (14/10/2025) malam.
KPK Meminta Masyarakat Melaporkan Informasi Terkait Korupsi
Menurut KPK, masyarakat yang memiliki informasi soal dugaan korupsi agar bisa melaporkan secara resmi via saluran pengaduan yang tersedia agar dapat ditelaah lebih lanjut. Juru Bicara KPK Budi Prasetyo menjelaskan bahwa laporan tersebut nantinya akan dianalisis dan dipelajari apakah ada unsur korupsi.
“Kami mengimbau bagi masyarakat yang mengetahui informasi awal ataupun data awal, silakan sampaikan aduan (laporkan) kepada KPK,” kata Budi di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Kamis (16/10/2025).
Budi menambahkan bahwa informasi yang beredar saat ini masih bersifat awal. KPK memerlukan data yang valid untuk menindaklanjuti apakah ada unsur korupsi dalam proses pengadaannya. “Sedangkan kalau soal kerugian keuangan negara itu kan mesti dihitung oleh auditor negara, bisa oleh BPK ataupun BPKP,” katanya.
Perbedaan Biaya Pembangunan Kereta Cepat per Kilometer
Pernyataan KPK ini merupakan respons atas video yang diunggah Mahfud MD di kanal YouTube-nya. Dalam video tersebut, Mahfud membeberkan adanya perbedaan biaya pembangunan kereta cepat per kilometer yang sangat signifikan antara perhitungan versi Indonesia dengan perhitungan di Cina.
“Dugaan mark up-nya gini. Menurut pihak Indonesia, biaya per 1 km kereta Whoosh itu 52 juta US dolar. Tapi di Cina sendiri hitungannya 17 sampai 18 US dolar. Naik tiga kali lipat kan,” ungkap Mahfud dalam video yang dikutip Kamis (16/10/2025).
Mahfud mengaitkan dugaan ini dengan beban utang proyek Whoosh yang diperkirakan mencapai Rp 4 triliun pada tahun 2025. Menurutnya, beban tersebut membengkak karena perubahan skema pembiayaan dari tawaran Jepang dengan bunga 0,1 persen ke Cina dengan bunga awal 2 persen yang kemudian naik menjadi 3,4 persen akibat pembengkakan biaya (overrun).
Dukungan terhadap Kebijakan Menteri Keuangan
Meskipun Mahfud menyerukan adanya penyelidikan, berdasarkan catatan, menunjukkan bahwa biaya pembangunan Whoosh per kilometer sebesar Rp 780 miliar dinilai lebih murah dibandingkan proyek MRT Jakarta yang mencapai Rp 1,1 triliun per kilometer. Kendati demikian, Mahfud mendukung sikap Menteri Keuangan Purbaya yang enggan membayar utang Whoosh menggunakan APBN dan meminta pemerintah mengambil kebijakan progresif agar beban utang tidak semakin bertambah.
Kisah Mahfud MD Soal Jokowi yang Pecat Ignasius Jonan
Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menyebut Presiden ke-7 RI, Joko Widodo alias Jokowi lebih memilih untuk memecat Menteri Perhubungan saat itu, Ignasius Jonan. Pemecatan itu dilakukan setelah Ignasius Jonan menolak proyek kereta cepat Whoosh dengan Cina.
Megaproyek kereta cepat Jakarta-Bandung yang diberi nama Whoosh, mulanya direncanakan dalam perjanjian G2G, atau government to government, antara pemerintah Jepang dengan pemerintah Indonesia. Namun pada akhirnya, pemerintah bekerjasama dengan Cina.
Rencana kerjasama dengan Jepang
Menurut Mahfud saat itu disepakati, berdasarkan hitungan ahli dari UI dan UGM, bahwa proyek Whoosh bisa dibangun dengan bunga 0,1 persen dengan Jepang. “Tiba-tiba sesudah Jepang minta kenaikan sedikit gitu, oleh pemerintah Indonesia dibatalkan. Di pindah ke Cina, dengan bunga 2 persen. Dengan overun pembengkakan kemudian menjadi 3,4 persen . Yang terjadi itu. Nah, sekarang kita gak mampu bayar,” papar Mahfud dalam channel YouTube Mahfud MD Official miliknya yang tayang, Selasa (14/10/2025) malam.

Ditolak Jonan
Mahfud mengungkapkan ketika kerja sama dipindah dari Jepang ke Cina, Menteri Perhubungan saat itu Ignasius Jonan menyatakan tidak setuju. Jonan, kata Mahfud mengatakan ke Presiden Jokowi bahwa perjanjian atau kesepakatan dengan Cina tidak visible atau tidak bisa dilihat keuntungannya. “Pak, ini tidak visible, kata Pak Jonan. Pak Jonannya dipecat, digantikan. Sesudah itu dia (Presiden Jokowi-Red) memanggil ahli namanya Agus Pambagyo,” ujar Mahfud.
Jokowi lalu menanyakan hal yang sama ke Agus Pambagio selaku pengamat ekonomi. “Presiden manggil nih. Iya Pak Jokowi. Sesudah mecat Jonatan, dia tanya ke Agus. ‘Pak Agus, gimana ini Pak?’ Ini tidak visibel, rugi negara, menurut Agus,” kata Mahfud.
Jokowi Ngotot
Bahkan kata Mahfud, Agus Pambagio sempat menanyakan ke Jokowi, ide siapa pembangunan kereta cepat yang awalnya kerja sama dengan Jepang lalu dipindah ke Cina dengan biaya yang membesar. “Ini atas ide siapa? Kata Agus. Kok bisa pindah dari Jepang ke Cina itu dan biayanya besar? Atas ide saya, kata Jokowi. Kata Presiden: Atas ide saya sendiri gitu,” papar Mahfud.
Agus, kata Mahfud lalu menjawab karena ide Presiden dan mau dijadikan kebijakan, maka Agus mengaku tidak bisa berbuat apa-apa. “Dan pergi si Agus. Ternyata sekarang benar gak mampu bayar,” ujar Mahfud.






















