Berita  

10 Nama Pahlawan Nasional Diungkap Prabowo Hari Ini

Panbil Mall

Presiden ke-2 RI Soeharto Akan Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional

Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto, akan menjadi salah satu tokoh yang mendapat gelar Pahlawan Nasional. Pengumuman ini akan dilakukan oleh Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dalam rangka Hari Pahlawan yang jatuh pada hari ini, Senin (10/11/2025). Selain Soeharto, ada sembilan tokoh lainnya yang juga akan diumumkan sebagai penerima gelar tersebut.

Pengumuman ini disampaikan oleh Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi di Jalan Kertanegara, Selong, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu (9/11/2025). Menurut Prasetyo, penghargaan ini merupakan bentuk penghormatan terhadap para pendahulu, khususnya para pemimpin yang telah berjasa besar bagi bangsa dan negara.

Proses Seleksi yang Panjang

Sebelumnya, terdapat 49 nama tokoh yang diajukan sebagai calon penerima gelar Pahlawan Nasional. Proses seleksi ini dimulai dari usulan tingkat daerah hingga pengkajian di tingkat pusat. Ketua Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan (GTK) RI, Fadli Zon, menjelaskan bahwa dari 49 nama tersebut, sebanyak 24 di antaranya masuk kategori prioritas.

Proses seleksi dilakukan oleh Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat yang dibentuk oleh Kementerian Sosial (Kemensos). Setelah melalui penilaian akademis dan ilmiah, beberapa nama akan dipilih untuk diajukan kepada Presiden.

Fadli Zon menyatakan bahwa proses pengusulan Pahlawan Nasional dimulai dari bawah, yaitu dari masyarakat, kabupaten, dan kota. Usulan ini kemudian diteruskan ke provinsi dan akhirnya ke pemerintah pusat.

Riwayat Perjuangan Soeharto

Soeharto lahir pada 8 Juni 1921 di desa Kemusuk, sebuah wilayah di dekat Yogyakarta, Indonesia. Ia tumbuh dalam keluarga petani sederhana dan hidup dalam lingkungan yang penuh dengan nilai-nilai tradisional. Ayahnya, Kertosudiro, bekerja sebagai petani sekaligus pembantu lurah dalam mengairi persawahan desa.

Soeharto tidak diasuh langsung oleh orang tuanya saat bayi. Sejak berusia 40 hari, ia dititipkan kepada Mbah Kromo, seorang dukun bayi yang telah membantu proses kelahirannya. Soeharto kecil diasuh dan tinggal selama sekitar empat tahun di rumah Mbah Kromo.

Pendidikan dan Karier Militer

Soeharto baru mulai bersekolah saat berusia delapan tahun dan sempat berpindah-pindah sekolah. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, ia memilih masuk ke bidang militer. Ia mendaftar ke Militer Koning Willem III (sekarang dikenal sebagai Akademi Militer Magelang) pada 1940. Di akademi ini, Soeharto mendapatkan pendidikan yang tidak hanya membentuk karakternya sebagai seorang pemimpin, tetapi juga mempertajam bakat militernya.

Setelah lulus dari akademi, Soeharto resmi menjadi anggota TNI pada 5 Oktober 1945. Ia turut berperan sebagai anggota TNI selama masa perang kemerdekaan. Nama Soeharto semakin dikenal publik setelah ia turut berperan dalam usaha menguasai Kota Yogyakarta pada serangan umum 1 Maret 1949.

Dari Militer ke Politik

Peran Soeharto dalam operasi setelah peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965 memberinya panggung lebih luas untuk tampil ke politik. Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) yang dikeluarkan Presiden Soekarno pada 1946 memberi kewenangan dan mandat kepada Soeharto untuk mengambil dan menentukan segala tindakan supaya permasalahan terselesaikan dan dapat memulihkan keamanan dan ketertiban nasional.

Soeharto kemudian menerima jabatan menjadi Panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib). Pada 1967, jalan menuju kursi presiden Indonesia terbuka bagi Soeharto ketika ia diangkat sebagai pejabat presiden menggantikan Soekarno. Langkah ini menandai awal perjalanan Indonesia dalam periode yang dikenal sebagai Orde Baru.

Era Orde Baru dan Kontroversi

Dalam kepemimpinan Soeharto, Indonesia mengalami transformasi besar. Pertumbuhan ekonomi yang pesat dan stabilitas politik yang lebih baik menjadi ciri khas era Orde Baru. Namun, pemerintahan Orde Baru juga tidak terlepas dari berbagai kontroversi. Kebebasan berpendapat dan pers dibungkam, serta korupsi, kolusi, dan nepotisme kental terjadi selama periode ini.

Akhir Kekuasaan Soeharto

Kekuasaan Soeharto selama lebih dari tiga dekade menemui titik akhir saat krisis ekonomi melanda Indonesia pada 1998. Gelombang aksi protes dan kerusuhan pun terjadi di mana-mana untuk menuntut Soeharto turun dari jabatannya. Hingga akhirnya, Soeharto memutuskan mengundurkan diri pada 1998.

Setelah menjalani masa pensiun dengan tenang, Soeharto meninggal dunia pada usia 87 tahun di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta Selatan, pada 27 Januari 2006.