
Tantangan Cuaca Buruk dan Gelombang Tinggi
Trunoyudo mengakui penyisiran di perairan Selat Sunda tidaklah mudah. Petugas di lapangan harus berhadapan cuaca ekstrem, seperti awan tebal, kabut, dan gelombang laut setinggi 2,5 sampai 4 meter.
Selain cuaca buruk, aktivitas Gunung Anak Krakatau juga menjadi perhatian khusus tim SAR demi keselamatan petugas di lapangan.
Meski begitu, operasi kemanusiaan ini melibatkan 280 personel gabungan dari Polri, Basarnas, TNI, Bakamla, KSOP, BPBD, hingga nelayan setempat.
Berbagai sarana canggih seperti drone thermal, kapal patroli, hingga dukungan armada udara turut dikerahkan.
“Kami memahami ada keluarga yang menunggu kepastian. Karena itu, pencarian akan terus dilakukan secara maksimal,” ucapnya.
Selain fokus mencari korban, Polri juga mulai menyelidiki penyebab hilangnya KM Arupadatu 1.
Subditgakkum Ditpolairud Polda Banten telah memeriksa sejumlah saksi, mulai dari pemilik kapal hingga teknisi galangan yang sempat memperbaiki kapal tersebut.
Polri mengimbau masyarakat dan para nelayan segera melapor jika menemukan petunjuk atau keberadaan korban.
Warga diminta tak ikut mencari secara perorangan karena risiko gelombang tinggi dan situasi di sekitar Gunung Anak Krakatau yang berbahaya.
(Kml/Ft)






















