Bisnis  

Yenna Yuniana, Bos Pengusaha Motor Listrik MBG, Dikenal Warga Sekitar

Sosok Yenna Yuniana, Bos Pemenang Tender Motor MBG yang Tidak Dikenal oleh Warga Sekitar

PT Yasa Artha Trimanunggal, sebuah perusahaan yang dipimpin oleh Yenna Yuniana, berhasil memenangkan tender besar dalam penyediaan lebih dari 20 ribu sepeda motor listrik untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Proyek ini dijalankan oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan bertujuan untuk memastikan akses makanan bergizi bagi masyarakat, khususnya anak-anak sekolah.

Perusahaan ini menjadi induk dari PT Adlas Sarana Elektrik, yang ditunjuk sebagai penyedia motor listrik merek Emmo JVX GT. Namun, di balik kesuksesannya, sosok Yenna Yuniana justru menjadi misteri bagi warga sekitar tempat tinggalnya di kawasan Grogol Petamburan, Jakarta Barat.

Benteng Tinggi di Seberang Kantor

Pantauan langsung menunjukkan bahwa gedung mewah milik PT Yasa Artha Trimanunggal tampak sepi. Di bagian lobi hanya terdapat dua unit kendaraan roda tiga hitam yang terparkir. Di seberang gedung tersebut, rumah pribadi Yenna juga tampak sunyi. Rumah bernomor 1850 itu dipagari bilah kayu rapat yang mempertegas batas privasi sang pemilik dari dunia luar.

Meski tertutup, Catur, Ketua RT setempat, mencatat keberadaan lebih dari satu unit mobil listrik mewah bermerek BYD yang sering terparkir di sana. Ia juga mengenang momen saat pandemi Covid-19, saat rumah tersebut sempat dipasangi tulisan “Dijual”.

Jarang Kelihatan Orangnya

Warga sekitar mengaku jarang melihat Yenna secara langsung. Rena, salah satu warga, mengatakan bahwa ia hanya melihat Yenna dari jauh tanpa pernah berbincang dengannya. Hal serupa disampaikan oleh Cika, yang mengaku tidak mengenal Yenna meski bertetangga.

Ketertutupan ini membuat komunikasi dengan warga menjadi sulit. Catur mengaku tidak pernah bertatap muka dengan Yenna meskipun jarak rumah mereka kurang dari 100 meter. Komunikasi selalu terputus di tangan perantara pegawai perusahaan yang berjumlah belasan orang.

Awalnya Kos-kosan

Fakta menarik terungkap tentang sejarah gedung kantor PT Yasa Artha Trimanunggal di wilayah RT 08. Sebelum berdiri megah dengan lobi yang kini dihuni dua kendaraan roda tiga hitam, bangunan itu merupakan aset sederhana bagi warga sekitar. Dulunya, gedung tersebut digunakan sebagai kos-kosan dan warung atau kafe milik Pak Haji. Baru direnovasi sekitar tahun 2025.

Transformasi fisik ini sejalan dengan profil perusahaan yang berdiri sejak 2016 dan kini memegang kendali atas produksi 21.801 unit motor listrik merek Emmo JVX GT.

Pengamanan Polisi dan Jejak Masa Lalu

Ketegangan sempat menyelimuti kantor tersebut pada Jumat (10/4/2026). Personel kepolisian dari Polsek setempat tampak berjaga ketat menyusul informasi rencana aksi unjuk rasa terkait pengadaan motor listrik MBG. Ini adalah kali kedua kantor tersebut dijaga aparat tanpa koordinasi dengan Ketua RT, setelah sebelumnya terjadi saat demo Agustus 2025.

Berdasarkan data Administrasi Hukum Umum (AHU), Yenna merupakan Beneficial Owner (pemilik manfaat akhir) yang memegang kendali penuh atas perusahaan tersebut. Nama Yenna Yuniana bukan sosok asing dalam catatan hukum. Pada November 2025, ia tercatat pernah dimintai keterangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai saksi kasus dugaan korupsi bantuan sosial (bansos) beras tahun 2020.

Klarifikasi Kepala BGN

Menanggapi isu yang berkembang, Kepala BGN, Dadan Hindayana, memberikan klarifikasi teknis guna menjamin akuntabilitas proyek motor listrik tersebut. Dadan menyatakan bahwa sebanyak 21.801 unit motor listrik akan disalurkan kepada Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai penunjang operasional program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Armada ini diprioritaskan untuk mobilitas petugas dalam menjangkau wilayah terpencil yang sulit diakses kendaraan roda empat. Dadan menegaskan, seluruh proses pengadaan telah mengikuti aturan birokrasi yang ketat dan transparan. Pengadaan ini telah direncanakan sejak anggaran 2025 dan melalui mekanisme Rekening Penampungan Akhir Tahun Anggaran (RPATA) sesuai regulasi keuangan yang berlaku.

Meski didatangkan dalam bentuk Completely Knock Down (CKD) atau komponen impor yang dirakit di dalam negeri, tingkat komponen dalam negeri (TKDN) motor tersebut diklaim mencapai 48,5 persen. Pemerintah juga memastikan sisa anggaran yang tidak terserap dari target awal 25.644 unit telah dikembalikan sepenuhnya ke kas negara. Saat ini, seluruh unit yang dirakit di fasilitas manufaktur Citeureup tersebut sedang dalam proses administrasi sebagai Barang Milik Negara (BMN) sebelum didistribusikan secara bertahap ke berbagai wilayah Indonesia.