Berbeda dengan Indonesia, kapal tanker Malaysia bebas lewat Selat Hormuz, Iran anggap sebagai sahabat dekat

Panbil Mall

Kedutaan Besar Iran di Malaysia Pastikan Kapal Kuala Lumpur Lintasi Selat Hormuz dengan Aman

Kedutaan Besar Iran di Malaysia telah mengonfirmasi bahwa pelayaran kapal perdana milik Kuala Lumpur melalui Selat Hormuz berjalan lancar dan aman. Pencapaian ini disebut sebagai bukti nyata kekuatan hubungan bilateral antara kedua negara, terlepas dari dinamika geopolitik yang sempat memanas di jalur perairan internasional tersebut.

Melalui unggahan di platform X (sebelumnya Twitter) pada Senin (6/4/2026), pihak Kedutaan Besar Iran menegaskan bahwa eratnya hubungan bilateral antara Iran dan Malaysia menjadi dasar dari kesepakatan dengan Negeri Jiran tersebut. Unggahan tersebut menyertai foto sebuah kapal milik Malaysia tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Kelancaran jalur logistik ini tidak lepas dari intervensi tingkat tinggi antara pemerintah Malaysia dan Iran. Sebelumnya, Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Anwar Ibrahim, mengungkapkan bahwa ia telah menggelar diskusi langsung dengan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian. Melalui diskusi tersebut, Malaysia akhirnya mendapatkan izin untuk melintas Selat Hormuz secara bebas tanpa halangan berarti.

Diskusi Langsung Antara Anwar Ibrahim dan Presiden Iran

“Saya memberi tahu Presiden Iran bahwa kapal-kapal kami masih terdampar di Selat Hormuz dan bahwa ini sangat penting untuk kebutuhan rakyat kami dan pasokan minyak nasional,” ungkap Anwar seperti yang dikutip dari Bernama.

“Segera setelah panggilan telepon tersebut, ia menginstruksikan agar kapal-kapal Malaysia diberikan jalan,” tambahnya saat berpidato dalam acara peluncuran Kolej Vokasional Pengerang di SMK Tanjung Pengelih, Pengerang, Johor.

Berdasarkan data pelacakan dari LSEG dan Kpler, salah satu kapal yang mendapat izin lintas adalah kapal tanker Ocean Thunder. Kapal yang memuat sekitar 1 juta barel minyak mentah Basrah Heavy dari Irak tersebut tercatat telah berlayar mendekati pantai Iran. Kargo ini dimuat pada 2 Maret dan dijadwalkan akan bongkar muat di Pengerang, Malaysia, pada pertengahan April.

Nasib Kapal Indonesia di Selat Hormuz

Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, mengungkapkan kondisi penting mengenai situasi terkini di Selat Hormuz di tengah berkecamuknya konflik di kawasan tersebut yang terus menjadi perhatian dunia internasional. Ia menyoroti bahwa jalur laut tersebut memiliki peran vital dalam arus distribusi energi global sehingga setiap perkembangan di wilayah itu berdampak luas.

Boroujerdi menegaskan bahwa hingga saat ini Selat Hormuz tidak ditutup, meskipun situasi keamanan sedang mengalami peningkatan kewaspadaan. Pernyataan ini memberikan kejelasan di tengah berbagai spekulasi yang beredar terkait potensi penutupan jalur tersebut. Jalur perdagangan strategis tersebut tetap beroperasi, namun dengan penerapan protokol keamanan khusus selama masa perang yang bertujuan untuk menjaga stabilitas dan keselamatan pelayaran.

Langkah ini diambil sebagai bentuk tanggung jawab Iran dalam memastikan keamanan wilayah perairannya tetap terjaga. Pernyataan itu disampaikan Boroujerdi saat menjawab pertanyaan mengenai kapal tanker Indonesia yang hingga saat ini belum bisa melintas Selat Hormuz. Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut bukan disebabkan oleh penutupan jalur, melainkan oleh faktor teknis dan keamanan yang memerlukan penyesuaian.

“Tentu Selat Hormuz tidak tertutup sekarang ini. Iran merupakan pihak yang mana sejak ratusan tahun yang lalu menjadi penyelenggara keamanan dan mengelola keamanan di selat tersebut,” kata Boroujerdi saat sesi wawancara khusus dengan Direktur Pemberitaan Tribun Network Febby Mahendra Putra di Studio Tribunnews.com, Palmerah, Jakarta, Senin (6/4/2026).

Pernyataan tersebut menegaskan peran historis Iran dalam menjaga stabilitas kawasan perairan strategis tersebut. Boroujerdi juga menjelaskan bahwa ketidakamanan yang terjadi di wilayah itu merupakan dampak dari pihak luar yang melakukan invasi terhadap Iran. Ia menekankan bahwa situasi ini bukan sepenuhnya berasal dari kebijakan domestik Iran, melainkan akibat dinamika geopolitik yang lebih luas.

Meski begitu, Iran tetap menjamin keselamatan jalur bagi negara-negara sahabat yang menjalin hubungan baik dengannya. Jaminan ini menjadi bentuk komitmen Iran dalam menjaga kerja sama internasional di tengah situasi sulit. Namun, ia menekankan pentingnya komunikasi dan koordinasi intensif dengan pemerintah Iran bagi setiap kapal yang ingin melintas agar tidak terjadi kesalahpahaman di lapangan.

Hal ini berkaitan erat dengan status siaga dan aturan khusus yang diberlakukan Iran di wilayah kedaulatannya demi memastikan keamanan maksimal. “Perlu dilakukan komunikasi dan koordinasi lebih lanjut dengan pihak pemerintah Iran dikarenakan saat ini sedang diberlakukan protokol-protokol khusus saat perang,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa koordinasi ini sangat penting untuk memastikan setiap kapal mendapatkan izin serta pengawalan yang diperlukan. Menurut Boroujerdi, langkah tersebut menjadi kunci agar kapal-kapal kargo dari negara sahabat tetap bisa melintas dengan aman tanpa hambatan teknis maupun ancaman keamanan di lapangan.