Pengalaman Perjalanan Lebaran di Aceh
Perayaan Idulfitri adalah momen istimewa bagi umat Muslim di seluruh dunia. Pada hari yang penuh makna ini, masyarakat saling bermaaf-maafan atas kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja. Bagi banyak orang, Lebaran juga menjadi waktu yang dinantikan untuk kembali ke kampung halaman dan merayakan bersama keluarga tercinta.
Pada Jumat sore, saya dan keluarga kecil memulai perjalanan dari Baitussalam, Aceh Besar, menuju Jakarta dan Lampung. Kami mempersiapkan segala sesuatu dengan matang, mulai dari pemeriksaan kendaraan hingga persiapan makanan dan minuman selama perjalanan. Kondisi sopir juga sangat penting, karena harus dalam keadaan fit agar perjalanan lancar dan aman.
Kami singgah di Masjid Bugeng di Kecamatan Peudada, Bireuen, untuk melaksanakan shalat Asar. Di tempat ini, banyak pengendara lain yang juga singgah. Sebagian besar menjalankan shalat, sementara para ibu yang membawa balita memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk bermain sejenak setelah lelah dalam perjalanan. Tidak sedikit pengunjung yang membeli kuliner yang dijajakan di sekitar masjid.
Perjalanan dilanjutkan dengan arus lalu lintas yang padat. Hal ini disebabkan oleh arus mudik dan akhir pekan yang membuat banyak pekerja di luar kota kembali ke daerahnya masing-masing. Banyak kendaraan yang melaju dengan berbagai nomor polisi, seperti BK, B, D, BM, F, dan lain-lain. Namun, yang lebih dominan adalah BL dengan berbagai kode wilayahnya.
Kemacetan yang parah terjadi saat memasuki wilayah Luengputu, Pidie Jaya, di mana antrean kendaraan hampir mencapai 1 kilometer. Setelah beberapa sopir mencari tahu penyebab kemacetan, ternyata hari itu adalah kembalinya para santri Dayah Jeumala Amal Pidie Jaya dari berbagai daerah. Uniknya, satu santri yang kembali diantar oleh lebih dari dua atau tiga kendaraan, terutama dari Bener Meriah dan Takengon, karena suasana Lebaran yang menyenangkan.
Setelah perjalanan cukup lama, kami akhirnya dapat melanjutkan perjalanan secara perlahan. Di sepanjang jalan, banyak pedagang musiman yang menjajakan berbagai kebutuhan santri, termasuk makanan dan minuman serta buah-buahan dan pernak-pernik lainnya.
Jalan lintas nasional menuju Banda Aceh memang sangat padat. Kendaraan hanya bisa melaju perlahan dalam suasana damai tanpa ada yang membunyikan klakson keras. Kami tiba di Sigli saat azan magrib dan memilih SPBU simpang jalan keluar sebagai tempat istirahat dan shalat Magrib. Musala dan toilet di sini bersih dan terawat, serta tersedia warung yang menjual berbagai kuliner.
Setelah menunaikan shalat, kami langsung menuju warung Galon Kupi. Aneka kuliner tersedia di sini, mulai dari teh dingin, teh panas, dan teh hijau, kopi aneka rasa, jus, jahe segar, serta makanan seperti sate matang, nasi goreng aneka rasa, martabak telur, mi, dan lainnya. Kami memesan nasi goreng ‘seafood’ udang + telur dadar, dan martabak telur. Untuk minumannya, kami memilih teh hijau, jahe panas, dan kopi sanger panas.
Nasi goreng yang diracik dengan sambal hijau rasanya lezat dan pedas, membuat selera makan meningkat. Porsi jumbo hampir tidak habis untuk satu orang. Minuman juga tidak kalah nikmat, semua yang disuguhkan habis, benar-benar nikmat. Harga sangat terjangkau, hanya Rp17.000 per porsi untuk nasi goreng sesuai pesanan.
Perjalanan dilanjutkan dan akhirnya sampai di pintu tol Padang Tiji. Kami menggunakan kartu e-money tol, sehingga pintu terbuka. Meski sempat mengantre lima mobil di depan, jalur tol menjadi alternatif untuk menghemat waktu dan menghindari kemacetan lampu merah serta perlintasan sebidang.
Menggunakan jalur tol sangat membantu pertumbuhan ekonomi masyarakat, terutama di sektor pariwisata, kuliner, dan UMKM di sekitar pintu tol maupun di ‘rest area’. Namun, saat ini ‘rest area’ di tol Sibanceh belum aktif.
Sambil mengendarai mobil, saya mengingatkan suami untuk mematuhi batas kecepatan minimal 60 km/jam dan maksimal 80-100 km/jam. Kami juga menjaga aliran lalu lintas tetap aman dan tidak menggunakan bahu jalan kecuali dalam keadaan darurat.
Lampu di area tol Padang Tiji baru ada di pintu masuk saja, sedangkan yang lain menggunakan pantulan lampu kendaraan ke arah papan petunjuk tol dan media jalan. Suasana tol malam itu tidak terlalu padat, tetapi saat melintasi mobil boks hampir saja tersenggol karena kecepatannya tiba-tiba berkurang. Saya merasa cemas karena trauma melihat beberapa berita kecelakaan di tol.
Untuk pengguna tol sebaiknya selalu mengikuti arah yang telah disediakan agar tidak keluar dari jalur yang dituju. Alhamdulillah, perjalanan kami lancar tanpa ada hewan yang melintas tiba-tiba. Pada saat pertama menggunakan tol ini, ada anjing dan monyet yang melintas, sehingga kendaraan hampir oleng pada saat menghindar.
Akhirnya, kami tiba di pintu keluar tol Baitussalam. Dengan menempelkan kartu tol, pintu palang pintu terbuka dan dikenakan tarif normal seharga Rp65.000. Mengingat tol Padang Tiji menuju Selimum masih gratis.
Tiba di rumah singgah kami di Blang Krueng, Aceh Besar, hanya beberapa meter dari pintu tol Baitussalam, hati terasa bahagia. Perjalanan Idulfitri yang menyenangkan, ternyata bahagia itu sederhana.




















