Patrolmedia, Kuala Lumpur – Sebuah kapal berisikan ratusan pengungsi Rohingya tenggelam dari Myanmar di perairan perbatasan Thailand dan Malaysia.
Sedikitnya 7 orang tewas dan 13 lainnya berhasil diselamatkan, sementara ratusan penumpang dinyatakan hilang.
Melansir Reuters, insiden tragis ini dikonfirmasi oleh Badan Penegakan Maritim Malaysia (MMEA) pada Minggu (9/11/2025).
Kapal diketahui berangkat dari Buthidaung, Negara Bagian Rakhine, Myanmar, dan tenggelam tak lama setelah memasuki perairan sekitar Pulau Langkawi.
Kepala MMEA wilayah Kedah dan Perlis, Laksamana Pertama Romli Mustafa, menyebut telah menerima laporan adanya kapal berisi pengungsi Rohingya tenggelam pada Sabtu pagi (8/11/2025).
“Tim penyelamat segera dikerahkan untuk menyisir area seluas 170 mil laut persegi di sekitar Langkawi,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Menurut Romli, kapal itu membawa sekitar 300 orang pengungsi Rohingya yang berusaha mencapai pantai Malaysia.
Hingga kini, tim gabungan dari MMEA, polisi laut, dan nelayan setempat masih berupaya mencari korban hilang.
Gambar yang dibagikan otoritas maritim menunjukkan kondisi memilukan para korban.
Seorang penyintas tampak ditutupi kain saat diperiksa petugas, sementara korban lain dilarikan menggunakan tandu ke fasilitas medis di Langkawi.
Media pemerintah Malaysia, Bernama, melaporkan bahwa sebelum tenggelam, para pengungsi sempat dipindahkan dari kapal besar ke 3 kapal kecil.
Langkah itu diduga untuk menghindari deteksi aparat saat mereka mendekati perairan Malaysia. Masing-masing kapal membawa sekitar 100 orang.
Namun nasib 2 kapal lainnya hingga kini belum diketahui. Polisi Malaysia menyebut operasi pencarian dan penyelamatan masih terus berlangsung di sepanjang jalur laut antara Langkawi dan Satun, Thailand.
“Kami belum dapat memastikan apakah 2 kapal lain juga karam atau berhasil mencapai daratan,” kata Kepala Polisi Kedah, Adzli Abu Shah.
Krisis kemanusiaan Rohingya telah berlangsung selama bertahun-tahun. Sejak aksi kekerasan militer Myanmar pada 2017, lebih dari 1,3 juta warga Rohingya hidup sebagai pengungsi di kamp-kamp kumuh di Bangladesh.
Banyak di antara mereka memilih menempuh perjalanan laut berisiko tinggi menuju negara lain di Asia Tenggara, termasuk Malaysia.
Menurut data Badan Pengungsi PBB (UNHCR), lebih dari 5.100 warga Rohingya telah mencoba menyeberang laut dari Myanmar dan Bangladesh sepanjang Januari hingga awal November 2025.
Dari jumlah itu, hampir 600 orang dilaporkan tewas atau hilang di laut.
Tragedi di perairan Langkawi ini kembali menyoroti nasib kelompok etnis tanpa kewarganegaraan.
Sementara tim penyelamat masih berjuang menemukan korban. Badan-badan kemanusiaan menyerukan solidaritas regional agar negara-negara Asia Tenggara bersatu memberikan perlindungan bagi para pengungsi Rohingya yang terus melarikan diri dari penderitaan di tanah air mereka.
(Kml/Ft)






















