
Mereka menegaskan, protes ini bentuk kecintaan pada Amerika, bukan kebencian terhadap negara.
“Eksperimen demokrasi Amerika sedang dalam bahaya, tapi kami rakyat yang akan berkuasa,” ujar Sanders di hadapan ribuan massa.
Namun Partai Republik menilai aksi “No Kings” sebagai “demonstrasi benci Amerika”.
Ketua DPR AS Mike Johnson menyebut peserta aksi sebagai “komunis dan Marxis” yang ingin menghancurkan kapitalisme.
Meski demikian, banyak demonstran menanggapi tudingan itu dengan humor dan sindiran.
“Pemerintahan ini penuh drama, jadi kami menanggapinya dengan cara yang sama,” kata Glen Kalbaugh, demonstran di Washington.
Latar Politik: Penutupan Pemerintahan dan Tarik Ulur Kekuasaan
Penutupan pemerintahan terjadi karena kebuntuan antara Demokrat dan Republik terkait anggaran layanan kesehatan.
Demokrat menolak membuka kembali pemerintahan tanpa jaminan dana sosial, sementara Republik ingin membahasnya setelah shutdown berakhir.
Bagi kubu oposisi, penutupan ini menjadi bentuk perlawanan terhadap Trump dan upaya mengembalikan keseimbangan kekuasaan antara presiden dan Kongres.
“Partai Demokrat kini menunjukkan keberanian setelah lama dianggap pasif,” sebut Ezra Levin, pendiri kelompok Indivisible.
Suara Rakyat dari Selatan
Di Birmingham, Alabama, 1.500 orang lebih, turun ke jalan, mengenang sejarah panjang perjuangan hak sipil di kota itu.
“Rasanya seperti hidup di Amerika yang tidak saya kenal,” kata Jessica Yother, peserta aksi.
“Tapi di sini, saya merasa tidak sendiri,” tambahnya.
(Kml/EN)






















