“Seandainya aku ada saat itu, pasti aku akan menolongmu dengan sekemampuanku,” kata Waraqah.
Namun, Waraqah tak mengalami masa-masa yang telah diucapkannya di mana kaum kafir Quraisy saat itu menyakiti Muhammad setelah mendapatkan wahyu. Sebab Waraqah terlebih dulu wafat.
Kesaksian Waraqah tentang kerasulan Muhammad juga ditemukan dalam hadis Nabi Muhammad SAW dalam kitab Shahih al Bukhari. Hadis ini juga diriwayatkan Abdullah bin Yusuf, Abu Shalih, dan Hilal bin Raddad dari az-Zuhri.
Waraqah bin Naufal termasuk orang langka. Ketika mayoritas orang Quraisy menyembah berhala, ia justru mempercayai tradisi agama-agama terdahulu dan menolak menyembah berhala.
Waraqah bin Naufal mencari agama yang lurus (al-millah al-hanafiyyah) dan ajaran Ibrahim (al-syarî’ah al-ibrâhimiyyah).
Dari berbagai riwayat, Waraqah bin Naufal orang yang haus dengan kebenaran. Ia berkelana ke berbagai penjuru mencari kebenaran yang hakiki.
Waraqah juga belajar pada banyak guru, dan menguasai kitab-kitab suci terdahulu, khususnya Yahudi dan Kristen.
Ia juga menyalin kitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa Arab. Ia memahami betul isi kitab-kitab suci terdahulu, terutama dalam tradisi Ibrahim.
Editor: Erwin Syahril / El Sabbat Adityawarman























