400 Ribu Warga Prancis Turun ke Jalan Protes Macron, Bentrokan Pecah

Protes Macron
Seorang demonstran memegang bendera Prancis saat unjuk rasa menentang kenaikan biaya hidup di Strasbourg, Prancis, Sabtu, 24 Oktober 2026. (AP Photo/Jean-Francois Badias).
Panbil Mall

Patrolmedia, ​Paris – Sebanyak 400 ribu warga Prancis menggelar aksi demo menentang kebijakan Presiden Emmanuel Macron.

Unjuk rasa itu berujung bentrok dengan aparat. Aksi yang digalang serikat pekerja ini memprotes masalah dana sekolah serta melonjaknya biaya hidup yang kian memberatkan warga.

Melansir APNews, Minggu (​25/10/2026), Kementerian Dalam Negeri Prancis mencatat jumlah massa aksi secara nasional mencapai 410.000 orang, sementara pihak serikat pekerja CGT mengklaim jumlahnya mendekati 800.000 orang.

Di Paris saja, pihak berwenang mencatat ada 110.000 pengunjuk rasa yang memadati area pinggiran tenggara kota.

Aksi yang awalnya berjalan damai ini akhirnya berujung ricuh menjelang titik akhir pawai.

Sejumlah pengunjuk rasa melemparkan berbagai benda ke arah aparat, yang langsung dibalas polisi dengan tembakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan massa di Paris, Lyon, Marseille, dan sejumlah kota lainnya.

​Kantor Kejaksaan Paris melaporkan sebanyak 64 orang ditangkap dalam aksi hari Sabtu tersebut, di mana 40 orang di antaranya masih ditahan.

Sebagian besar penangkapan dilakukan atas dugaan membawa senjata terlarang serta terlibat dalam kelompok yang merencanakan perusakan dan kekerasan.

Tantangan Berat di Penghujung Jabatan Macron

​Gelombang protes masif ini menjadi ujian berat bagi Presiden Emmanuel Macron di penghujung masa jabatannya menjelang pemilihan presiden.

Situasi ini dimanfaatkan oleh partai oposisi sayap kanan, National Rally, untuk mendulang dukungan politik dengan menuding pemerintah gagal melindungi masyarakat.

​Pemerintah sendiri telah mengerahkan hingga 70.000 aparat keamanan secara nasional, lengkap dengan dukungan helikopter, kendaraan taktis lapis baja, serta meriam air.

Sejumlah fasilitas publik seperti museum besar, termasuk Museum Louvre dan Musée d’Orsay, serta pameran seni internasional Art Basel terpaksa ditutup lebih awal demi keamanan.

​Akar Masalah: Krisis Biaya Hidup dan Fasilitas Sekolah

Gerakan protes ini bermula dari aksi mogok para siswa dan guru akibat kekurangan staf pengajar yang membuat jutaan jam pelajaran terbuang sia-sia.

Tuntutan tersebut kemudian meluas menjadi gerakan nasional yang menyuarakan kenaikan upah, perbaikan fasilitas pendidikan, hingga tuntutan penurunan biaya hidup di tengah lonjakan inflasi energi yang mencapai 21,3%.

​Pemerintah Prancis menghadapi tekanan besar untuk segera memberikan solusi konkret sebelum gelombang demonstrasi susulan kembali digelar kelompok pengunjuk rasa dalam waktu dekat.

 

(Ipl/Ipl)