Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono meninjau langsung pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SD Negeri Cot Meuraja, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, pada Selasa (13/10/2026). Dalam kunjungan itu, ia tidak hanya melihat proses penyaluran makanan, tetapi juga berinteraksi dengan siswa dan guru, sekaligus membagikan hidangan kepada para pelajar.
Kehadiran Sudaryono di sekolah tersebut merupakan bagian dari pemantauan lapangan terhadap program pemenuhan gizi bagi anak sekolah. Ia disebut menanyakan langsung bagaimana MBG dijalankan di sekolah itu, mulai dari pelaksanaan hingga alur distribusi makanan kepada siswa. Agenda ini memberi gambaran langsung mengenai bagaimana program pemerintah tersebut diterapkan di tingkat satuan pendidikan.
Namun, perhatian publik kemudian bergeser ke satu momen yang terekam saat Sudaryono mencicipi menu MBG yang disajikan. Ekspresi wajahnya ketika menyantap makanan itu memicu perbincangan di media sosial dan membuat warganet ramai memberi tanggapan. Sorotan tersebut muncul bukan karena isi kunjungan secara keseluruhan, melainkan karena gestur singkat yang dianggap menarik perhatian pengguna internet.
Reaksi yang muncul di jagat maya pun beragam. Sebagian warganet menyoroti mimik Sudaryono dengan berbagai tafsir, sementara yang lain melihatnya sebagai bagian wajar dari momen mencicipi makanan di lokasi kunjungan. Meski begitu, respons publik atas ekspresi tersebut tidak otomatis bisa dijadikan ukuran untuk menilai mutu menu yang disajikan di sekolah.
Untuk menilai kualitas MBG secara lebih utuh, diperlukan informasi tambahan yang lebih rinci. Unsur seperti komposisi bahan makanan, cita rasa, kecukupan gizi, serta kesan para siswa yang menerima menu tersebut menjadi bagian penting dalam penilaian. Dengan kata lain, satu ekspresi wajah tidak cukup untuk menyimpulkan keseluruhan kualitas hidangan.
Di luar sorotan warganet, kunjungan Sudaryono ke Aceh Besar tetap menjadi kesempatan untuk melihat langsung jalannya program MBG di lapangan. Pemerintah melalui program ini berupaya memastikan pelajar memperoleh asupan gizi yang memadai, sementara pemantauan langsung di sekolah menjadi salah satu cara untuk mengevaluasi pelaksanaannya.






















