Berita  

Aron Ashab Muncul Lagi, Ungkap Dugaan Penculikan dan Penyiksaan di Tasikmalaya

Panbil Mall

Selebgram Aron Ashab kembali menjadi perhatian publik setelah hampir setahun jarang terlihat di media sosial. Pria berusia 33 tahun itu mengaku pernah menjadi korban penculikan, penyekapan, dan penyiksaan di sebuah tempat di Tasikmalaya yang oleh pihak lain disebut pesantren. Pengakuan tersebut ia sampaikan melalui Instagram, sementara pihak yang dituding membantah keras dan menyebut Aron memang pernah tinggal di tempat itu. Hingga kini, versi keduanya masih saling bertolak belakang dan seluruh klaim yang muncul belum terverifikasi sepenuhnya.

Dalam unggahannya, Aron menyebut dirinya dibawa secara paksa, dikurung, dan diperlakukan dengan kekerasan. Ia menggambarkan pengalaman itu sebagai masa terburuk dalam hidupnya, sampai kondisi mentalnya jatuh sebelum akhirnya berani bicara ke publik. Aron juga memberi sinyal akan membuka identitas orang-orang yang menurutnya terlibat dalam peristiwa tersebut. Setelah lama tak tampil, ia menegaskan siap kembali aktif di dunia hiburan maupun media sosial.

Aron yang memiliki nama lengkap Mohammad Haeran Ashab lahir di Jakarta pada 15 Agustus 1993. Ia dikenal sebagai selebriti internet, YouTuber, penyanyi, dan aktor keturunan Arab-Belanda. Ia berasal dari keluarga dokter; ayahnya, dr Gatami Ashab, SpA, adalah dokter anak, sedangkan ibunya bernama Secha Hanny. Aron merupakan anak bungsu dari empat bersaudara. Pendidikan formalnya ditempuh di SMP Labschool Jakarta, SMA Negeri 8 Jakarta, lalu Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia.

Respons atas cerita Aron datang dari seseorang bernama A Dede yang mengaku sebagai pemilik tempat tersebut. Melalui komentar yang kembali dibagikan Aron, A Dede menolak tuduhan penculikan dan penyiksaan. Ia bahkan mengancam akan menempuh jalur hukum jika pernyataan Aron dinilai tidak sesuai dengan fakta. Dalam komentarnya, A Dede juga menuding Aron kerap bermain sebagai korban demi popularitas. Ia menulis bahwa Aron pernah mondok di pesantren dan seharusnya menjadi pribadi yang lebih baik.

Aron tidak tinggal diam. Ia menanggapi bantahan itu dengan mempertanyakan penyebutan tempat tersebut sebagai pesantren. Menurut versinya, aktivitas yang dijalani di sana jauh dari gambaran pendidikan agama. Ia menyinggung soal kewajiban ibadah yang menurutnya tidak wajar, termasuk sholat hingga 120 rakaat sehari dan dzikir berjam-jam. Aron juga menuduh adanya hukuman fisik jika seseorang tidak hafal bacaan tertentu. Semua pernyataan itu masih berupa klaim dari satu pihak dan belum mendapat pembuktian independen.

Dalam unggahan lanjutan, Aron menyebut dirinya dan sejumlah orang lain pernah ditempatkan di ruang bawah tanah dan tidak bisa keluar untuk waktu lama. Ia juga mengaitkan tempat itu dengan kematian kakaknya. Selain itu, Aron menolak anggapan bahwa dirinya perlu diarahkan untuk hijrah. Ia justru menyoroti dugaan penyitaan ponsel dan pengalaman ketika sempat diberi perangkat lain untuk menghubungi teman. Sampai saat ini, perbedaan keterangan antara Aron dan pihak yang dibantahnya membuat kasus ini masih menyisakan banyak pertanyaan.