Mengapa Suporter Manchester City Mengibarkan Balon Pisang di Anfield

Panbil Mall

Laga Liverpool kontra Manchester City di Anfield pada pekan ini bukan hanya menyajikan persaingan ketat di lapangan, tetapi juga memunculkan pemandangan tak biasa di tribun. Di tengah hujan ejekan dari suporter tuan rumah, pendukung City membalas dengan membawa ratusan balon berbentuk pisang berwarna kuning. Aksi itu terjadi saat The Citizens menjalani pertandingan Liga Premier pertama mereka sejak klub dinyatakan bersalah atas pelanggaran serius aturan keuangan.

Atmosfer di stadion memang sudah panas sejak awal. Pendukung Liverpool memenuhi Anfield dengan nyanyian sindiran, sorakan, dan spanduk yang menyoroti kasus yang menimpa City. Namun, fans tim tamu memilih respons yang berbeda: mereka menghidupkan kembali simbol lama yang lama melekat pada identitas suporter klub. Bagi yang tidak mengenal sejarahnya, balon pisang itu mungkin terlihat seperti lelucon biasa. Nyatanya, benda tersebut punya akar budaya yang cukup panjang.

Tradisi balon pisang di kalangan pendukung Manchester City disebut mulai muncul pada musim 1987/1988. Saat itu, City baru turun kasta dari Divisi Pertama Inggris, yang pada masa itu merupakan level tertinggi sepak bola di negara tersebut. Situasi klub sedang sulit, dan seorang suporter dikisahkan membawa balon pisang berukuran besar ke Maine Road, stadion kandang mereka kala itu, sebagai cara untuk mencairkan suasana dan memberi hiburan di tengah masa suram.

Dari aksi sederhana itu, kebiasaan tersebut perlahan berkembang menjadi ciri khas yang mudah dikenali. Sosok penyerang Imre Varadi ikut memperkuat kaitan antara pisang dan Manchester City. Varadi bermain untuk City pada periode tersebut dan mendapat julukan akrab “Imre Banana”. Julukan itu membuat simbol pisang semakin identik dengan dirinya, lalu ikut melekat pada para pendukung klub yang kemudian semakin sering membawa balon pisang ke stadion.

Seiring berjalannya waktu, pisang tiup menjadi bagian dari budaya suporter City, terutama pada akhir 1980-an dan sepanjang 1990-an. Meski begitu, tradisi ini tidak selalu tampak di setiap pertandingan. Popularitasnya sempat menurun ketika zaman berubah, klub pindah dari Maine Road, dan Manchester City memasuki fase baru pada pertengahan 2000-an. Perubahan besar itu ikut menggeser wajah dukungan di tribun.

Meski sempat meredup, kebiasaan itu ternyata belum hilang sepenuhnya. Saat bertandang ke Anfield, para pendukung City kembali mengangkat balon pisang sebagai penanda kebanggaan terhadap sejarah mereka. Di tengah serangan verbal dari tribun Liverpool, simbol tersebut menjadi jawaban yang jenaka sekaligus bernuansa nostalgia. Balon pisang di Anfield bukan sekadar aksesori, melainkan pengingat bahwa identitas suporter sering kali dibangun dari tradisi kecil yang bertahan lama, bahkan ketika klub sudah berubah menjadi kekuatan besar di sepak bola Inggris.