Perjalanan Inspiratif Anaura Marfirsta: Dari Mimpi Masa Kecil hingga Lolos Astronomi ITB
Suasana kafe di Desa Kurnia Jaya, Manggar, Belitung Timur, pada suatu siang terasa hangat. Tepat pukul 14.00 WIB, sebuah mobil putih memasuki area parkir. Dari dalamnya, turun seorang gadis muda berambut hitam panjang terurai rapi, ditemani sang ayah. Gadis itu adalah Anaura Marfirsta, atau yang akrab disapa Naura, berusia 19 tahun. Senyum ramah merekah di wajahnya dan sang ayah saat kami berjabat tangan untuk pertama kali.
Obrolan santai ditemani aroma kopi menjadi pembuka percakapan kami. Baik Naura maupun ayahnya adalah sosok yang hangat dan terbuka, membuat suasana semakin nyaman. Tak lama kemudian, kami bergeser ke area dalam kafe untuk mendapatkan suasana yang lebih kondusif, di mana kisah luar biasa Naura mulai mengalir.
Lolos di Dua Jalur Bergengsi: ITB dan Polban
Di sela alunan musik kafe yang sayup terdengar, Naura mulai bercerita tentang pencapaian gemilang yang baru saja ia raih. Ia dinyatakan lolos di Program Studi S1 Astronomi, Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui jalur Seleksi Mandiri Siswa Unggul. Yang lebih mengejutkan, keberhasilan ini ia raih hanya sehari setelah melihat pengumuman Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) pada 25 Mei.
Selain ITB, Naura juga berhasil lolos di Program Studi D4 Teknologi Pembangkit Tenaga Listrik, Politeknik Negeri Bandung (Polban). “Waktu buka pengumuman ITB tanggal 26 Mei itu jujur masih kayak kaget, mikirnya mimpi. Karena di pilihan pertama SNBT kan tidak dapat,” ungkap Naura.
Berbeda dengan saat ia membuka pengumuman jalur rapor (SNBP) dan SNBT yang sempat ia dokumentasikan dalam rekaman video, pada jalur mandiri ITB ini Naura mengaku sudah pasrah dan tidak berharap banyak. Hal ini bukan tanpa alasan. Nilai rata-rata rapor Naura adalah 91,5, sementara ia tahu betul para pesaingnya rata-rata memiliki nilai 93 hingga 94. Namun, takdir berkata lain. Layar pengumuman justru menampilkan namanya lolos di jurusan yang menjadi mimpinya. “Pas buka ternyata lolos. Di situ masih kayak tidak nyangka, sampai gemetar badan. Langsung hari itu juga ngabarin orang tua, teman dan guru-guru,” ujarnya dengan mata berbinar.
Merajut Prestasi Sejak Dini
Ketertarikan Naura pada misteri alam semesta ternyata bukan sekadar tren sesaat. Rasa penasaran itu tumbuh sejak ia duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), berawal dari buku-buku ensiklopedia planet yang dibelikan oleh sang bunda. “Dulu sering dibeliin buku sama Bunda. Dari situ aku tahu kalau selain bumi, ada planet lain di tata surya. Aku mulai hafal-hafalin urutan namanya,” kenangnya.
Saat duduk di kelas 5 atau 6 SD, ketertarikannya semakin menjadi setelah membaca di internet mengenai kisah salah satu personel band terkenal luar negeri, Queen, yang ternyata menempuh pendidikan di jurusan astronomi. Hal-hal inilah yang membuka mata Naura bahwa ilmu penjelajah langit itu nyata ada di Indonesia. Ia mulai mencari tahu lebih dalam hingga mendapati bahwa satu-satunya institusi di Indonesia yang secara spesifik berfokus pada keilmuan tersebut hanyalah ITB.
Selama bersekolah di SMA Negeri 1 Manggar, Naura aktif mengikuti berbagai kompetisi lintas bidang. Ia pernah berpartisipasi dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN) Astronomi tingkat kabupaten dan juga berhasil mengukir prestasi di ajang debat bahasa Inggris.
Rentetan prestasi Naura terbilang mengesankan. Saat kelas 10, ia sukses terpilih mewakili Bangka Belitung dalam ajang simulasi parlemen bertajuk Parlemen Remaja yang diselenggarakan oleh DPR RI pada Oktober 2022. “Di sana kami belajar jadi DPR cilik. Membahas undang-undang perlindungan data pribadi dan melakukan simulasi rapat dengar pendapat. Seru banget,” tuturnya dengan antusias.

Melanjutkan ke kelas 11, Naura berhasil meraih gelar Duta SMA Provinsi Kepulauan Bangka Belitung 2023 dan mewakili provinsinya ke tingkat nasional. Puncak prestasi Naura terjadi ketika ia memantapkan diri untuk mengikuti program pertukaran pelajar Kennedy-Lugar Youth Exchange and Study (KL-YES) ke Amerika Serikat. Program ini merupakan beasiswa penuh yang diselenggarakan oleh Bina Antarbudaya, sebuah program yang sudah diincarnya sejak kelas 8 SMP.
Sejujurnya, Naura sempat mengalami kegagalan pada seleksi wawancara saat kelas 10. Namun, alih-alih menyerah, kegagalan tersebut ia jadikan bahan evaluasi untuk memperbaiki teknik wawancaranya. “Aku nanya tips wawancara ke alumni KL-YES dan teman-teman di Parlemen Remaja. Pas naik kelas 11, aku coba daftar lagi, minta rekomendasi ke guru esai aku,” jelasnya. Naura akhirnya dinyatakan lolos dan berhak untuk menjalani pertukaran pelajar di Amerika Serikat selama kurang lebih satu tahun.
Membangkitkan Kembali Ambisi Masa Kecil di Negeri Paman Sam
Di Amerika Serikat, mimpi masa kecilnya terhadap astronomi kembali berkobar. Melalui kelas astronomi, Naura mendapatkan kesempatan langka untuk mengintip cincin planet Saturnus dan kawah bulan secara langsung menggunakan teleskop di sebuah planetarium. Pengalaman ini membuatnya seolah jatuh cinta kembali pada bidang yang ia impikan. Sekembalinya dari Amerika, ia membulatkan tekad untuk masuk ke program studi Astronomi di ITB.
Pesan untuk Generasi Muda: Tetap Membumi dan Berjuang Tanpa Henti
Seperti yang sudah diperkirakan, berbagai pujian datang menghampiri Naura. Namun, ia memilih untuk tetap membumi. “Prosesnya kemarin kan tidak mudah, sudah ditolak dulu baru bisa berhasil sekarang. Jadi tidak boleh sombong. Dipuji ya alhamdulillah,” ucapnya dengan rendah hati.
Saat ini, target terdekat Naura adalah menyelesaikan proses pendaftaran ulang dan mempersiapkan diri menghadapi pre-test akademik di ITB yang dijadwalkan berlangsung pada periode Juli hingga Agustus 2026.
Sebagai penutup, Naura menitipkan pesan mendalam bagi rekan-rekan seusianya yang tengah berjuang menuju bangku kuliah. Ia menegaskan bahwa mimpi tanpa perencanaan yang matang hanya akan berakhir menjadi khayalan. Sebaliknya, rencana tanpa aksi nyata selamanya hanya akan menjadi angan-angan kosong.
“Semua pilihan pasti ada risikonya. Seperti aku yang harus rela mengulang setahun (gap year) demi bisa ikut pertukaran pelajar ke Amerika. Tapi kalau memang itu yang kamu mau, ya kamu kejar saja,” tegasnya.
Bagi rekan-rekannya yang mungkin belum beruntung dalam jalur penerimaan mahasiswa, Naura berpesan agar tidak larut dalam kesedihan. “Boleh sedih, boleh nangis dulu, tapi jangan berlarut. Harus bangkit lagi karena banyak jalan menuju kesuksesan. Percaya kalau Tuhan selalu punya rencana yang lebih baik,” pungkasnya dengan penuh keyakinan.
Wawancara yang berlangsung cukup lama itu ditutup dengan senyuman. Obrolan ringan masih terus mengalir sebelum akhirnya Naura dan ayahnya pamit untuk kembali pulang, meninggalkan jejak inspirasi bagi siapa saja yang mendengarnya.


















