Kasus Pembunuhan di Mojokerto: Keluarga Mengungkap Kondisi Keluarga Korban
Seorang pria yang dikenal sebagai badut, bernama S (42), diduga terlibat dalam kasus penganiayaan terhadap istrinya dan pembunuhan mertuanya. Kejadian ini terjadi di rumah kontrakan Dusun Sumbertempur RT02/01, Desa Sumbergirang, Puri, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, pada Rabu (6/5/2026). Korban adalah Sri Wahyuni (36) dan SA (52).
Keluarga korban mengungkapkan rasa kehilangan yang mendalam setelah kejadian tersebut. Mereka menyebut bahwa korban adalah sosok perempuan pekerja keras yang menjadi tulang punggung keluarga.
“Pastinya kami sangat kehilangan, terutama anak ketiga almarhumah (SMP kelas 3),” ujar adik ipar korban saat ditemui di rumah duka, Senin (11/5/2026). Ia juga menanggapi tudingan dari tersangka yang seolah-olah menyalahkan almarhumah.
Menurutnya, korban pernah mengusir menantunya karena diduga ingin melakukan hal yang tidak wajar terhadap putrinya. Sebelumnya, korban ditinggal suami meninggal pada 2024 silam dan memiliki tiga anak serta empat cucu.
Pihak keluarga merasa bahwa tersangka S memperalat anak kecil untuk mengamen. Dari pengakuan tersangka sebelumnya, ia membawa anaknya saat bekerja lantaran si istri menolak merawatnya. Tersangka mengajak anak agar bisa mendapatkan uang lebih banyak karena orang yang melihatnya kasihan.
“Pernah diusir dan rebutan anak, karena (korban) tidak memperbolehkan cucunya diajak ngamen (badut). Bawa anak, kerja keras siang dan malam memang benar. Tapi orang tahu kulitnya saja, tidak tahu dalamnya seperti apa,” tambahnya.
Penjelasan dari Pihak Desa
Kepala Desa Sumbergirang, Siswahyudi, menyampaikan bahwa masyarakat perlu lebih bijak dalam berkomentar di media sosial terkait kasus ini. Ia menekankan agar jangan sampai korban seolah-olah menjadi penyebab peristiwa berdarah tersebut.
“Kita serahkan kasus ini pada kepolisian, agar secara moril pihak keluarga tidak ada tekanan yang menjadi korban malah dihujat,” katanya. Ia juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga ketertiban dan keamanan pasca kejadian ini.
“Saya sebagai kepala desa menjaga kerukunan warga, apalagi korban dan pelaku adalah keluarga mereka warga kami. Jangan sampai muncul dendam, itu yang saya khawatirkan,” tutupnya.
Pengakuan Tersangka
Di hadapan penyidik Satreskrim Polres Mojokerto, tersangka S menunjukkan emosi yang kuat saat menceritakan penyebab pembunuhan. Ia menangis sambil mengatakan bahwa istrinya selingkuh. “Istri saya selingkuh Pak Polisi, sebenarnya saya sudah tahu sejak lama cuma saya ikuti alurnya. Tapi semakin dibiarin malah seperti itu,” ujarnya dengan isak tangis.
Tersangka S mengungkapkan bahwa dirinya sama sekali tidak pernah dihargai oleh istrinya meski telah bekerja hingga larut malam sebagai badut penjual balon dan mainan anak-anak di sepanjang jalan Bangsal-Mojosari, Kabupaten Mojokerto. Ia sering berjalan kaki sembari mendorong sepeda pancal menempuh puluhan kilometer dari Mojosari ke rumahnya di kawasan Puri.
Ia berjualan seringkali membawa putranya yang berusia 3,5 tahun dari pernikahannya dengan korban. “Kok (korban) enggak lihat saya kerja, bawa anak kecil hujan-hujanan sampai panas kepanasan. Saya sering pak jalan (berjualan) dari Mojosari sampai ke rumah, anak juga ikut karena tidak ada yang merawat,” ucapnya sembari mengelus dada.
Alasan Membawa Anak Saat Berjualan
Tersangka terpaksa membawa anaknya setiap kali berjualan lantaran si istri tidak mau mengurusnya. Sang istri bersedia mengurus anak jika semua kebutuhan rumah tangga terpenuhi. Namun, penghasilan dari berjualan sebagai badut tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
“Dia mau momong kalau kebutuhan terpenuhi semuanya, seperti uang belanja sendiri dan uang sekolah, uang dandan (skincare),” tutur S. “Sedangkan, seperti saya ini penghasilan tidak tentu. Pokoknya mintanya dipenuhi, akhirnya lari cari yang beruang,” sesalnya.























