Bisnis  

UMKM Banjarmasin Terdampak Kenaikan Harga Elpiji, Ini Solusi Mereka

Kenaikan Harga LPG Non Subsidi Berdampak pada UMKM Sektor Kuliner di Kalimantan Selatan

Kenaikan harga Liquefied Petroleum Gas (LPG) non subsidi di Kalimantan Selatan kini mulai memicu efek domino bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sektor kuliner. Kenaikan yang mencapai sekitar Rp35.000 per tabung untuk varian 12 kg membuat banyak pelaku usaha harus berpikir keras agar tetap bisa bertahan di tengah naiknya biaya produksi.

Salah satu contohnya adalah Bawang Goreng Makyem, sebuah usaha yang terkenal dengan produk bawang gorengnya. Dwi Farid, pemilik usaha tersebut, mengatakan bahwa pihaknya menerapkan strategi berbeda untuk dua jalur distribusi yang berbeda pula.

Untuk penjualan di pasar tradisional, Bawang Goreng Makyem memilih mempertahankan harga jual tetap agar tidak ditinggalkan pelanggan. Namun, kompensasinya adalah pengurangan volume atau isi produk.

“Strategi penjualan untuk pasar tradisional harga tetap, namun isinya yang akan menurun atau dikurangi,” ujarnya pada Minggu (19/4/2026).

Sementara itu, kondisi berbeda terjadi pada pasar ritel modern. Selain kenaikan harga gas, melonjaknya harga plastik kemasan memaksa mereka untuk menaikkan harga jual produk secara langsung.

“Kenaikan harga berkisar 20 persen untuk produk bawang putih goreng. Saat ini sedang dalam tahap negosiasi perubahan harga dengan pihak ritel modern,” jelasnya.

Harga bawang putih goreng dijual mulai dari Rp3.000 hingga Rp120.000, dengan kemasan 100 gram yang kerap dijual di ritel modern dibanderol Rp22.900.

Kenaikan Harga LPG Non Subsidi di Wilayah Kalimantan Selatan

Kondisi serupa juga dialami oleh Dapoer Ummu Keisha, sebuah usaha penyedia menu harian yang mengandalkan gas sebagai bahan bakar utama. Kenaikan LPG nonsubsidi membuat margin keuntungan semakin menipis.

Dapoer Ummu Keisha yang dikenal dengan produk Nasi Bekal seharga Rp10.000 serta jajanan Cilok, kini terpaksa berencana menaikkan harga jual guna menutupi biaya operasional.

“Saya pakai gas pink 5,5 kg, belum habis saat ini jadi belum beli baru, tapi kemungkinan harga jual makanan akan dinaikkan juga,” ujarnya.

Rincian Harga LPG Non-Subsidi di Kalimantan Selatan

Berdasarkan data terbaru dari PT Pertamina Patra Niaga per Sabtu, 18 April 2026, harga LPG non-subsidi (Bright Gas) di wilayah Kalimantan Selatan mengalami penyesuaian. Kenaikan ini merupakan dampak dari fluktuasi harga energi global dan biaya distribusi regional.

Berikut adalah rincian harga untuk wilayah Kalimantan Selatan:

  1. Bright Gas 5,5 kg semula harga Rp97.000 menjadi Rp114.000, ada kenaikan Rp17.000
  2. Bright Gas 12 kg semula harga Rp202.000 menjadi Rp238.000, ada kenaikan Rp36.000

Harga di atas adalah harga resmi di tingkat agen/pangkalan. Di tingkat pengecer atau toko kelontong di beberapa wilayah seperti Banjarbaru dan Banjarmasin, harga di lapangan dilaporkan bisa mencapai Rp125.000 untuk ukuran 5,5 kg dan Rp250.000 untuk ukuran 12 kg karena adanya biaya tambahan jasa antar dan margin pengecer.

Kenaikan ini berlaku seragam di wilayah Kalimantan lainnya (Barat, Tengah, dan Timur), kecuali untuk Kalimantan Utara (Tarakan) yang memiliki tarif berbeda karena kondisi geografis.