Perubahan Strategi Bisnis di Industri Elektronik
Kondisi global yang semakin memanas, terutama akibat konflik di kawasan Timur Tengah, telah memicu berbagai perubahan dalam strategi bisnis industri elektronik. Kenaikan harga jual produk menjadi salah satu langkah yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan untuk menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat.
Dampak dari Konflik dan Rantai Pasok
Konflik di kawasan Timur Tengah tidak hanya memengaruhi stabilitas politik, tetapi juga memberikan dampak signifikan pada rantai pasok global. Hal ini menyebabkan gangguan dalam distribusi komponen impor, sehingga meningkatkan biaya produksi. National Sales Senior General Manager PT Sharp Electronics Indonesia, Andry Adi Utomo, menjelaskan bahwa kondisi ini telah memengaruhi ketersediaan kontainer logistik global.
“Kendala dalam distribusi komponen impor berdampak pada biaya yang jauh lebih mahal,” ujarnya. Selain itu, penguatan dolar AS terhadap rupiah juga turut memperberat beban biaya impor komponen, sehingga perusahaan harus melakukan penyesuaian harga.
Lonjakan Harga Energi dan Bahan Baku
Lonjakan harga energi global juga turut memperburuk kondisi tersebut. Harga minyak dunia yang menembus lebih dari US$100 per barel berdampak pada kenaikan harga bahan baku turunan seperti plastik yang banyak digunakan dalam produksi elektronik. Akibatnya, Sharp melakukan koreksi harga sebesar 3% hingga 5%.
Namun, meskipun ada penyesuaian harga, perusahaan tetap fokus pada program sale out di penjualan. “Kita tetap fokus untuk program sale out di penjualan,” tambahnya.
Langkah Antisipatif untuk Kelangsungan Produksi
Untuk menjaga kelangsungan produksi, Sharp mengambil langkah antisipatif dengan mencoba mengamankan stok komponen serta mencari alternatif pemasok baru. Meski saat ini dampak konflik dan krisis energi belum terasa signifikan di pasar Indonesia, Andry memprediksi jika harga energi domestik ikut meningkat, pasar elektronik bisa melemah sekitar 5% hingga 10% dibandingkan tahun sebelumnya.
“Di saat itu, produk yang hemat energi akan mempunyai nilai lebih dan Sharp sudah siap dengan product inverter di AC, lemari es, mesin cuci, microwave,” jelasnya.
Andry berharap agar pemerintah dapat memberikan kebijakan yang mendukung kestabilan ekonomi nasional di tengah eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Asus Indonesia Juga Bersiap Menghadapi Perubahan
Tidak hanya Sharp, Asus Indonesia juga bersiap melakukan penyesuaian harga untuk produk gawainya. Head of Public Relation Asus Indonesia, Muhammad Firman, mengatakan bahwa penyesuaian harga jual pasti ada dan tidak bisa dihindari. Namun, perusahaan tetap berusaha menjaga kenaikan tidak terlalu eksponensial agar tetap terjangkau bagi pengguna.
Firman menyebut bahwa kenaikan harga memang tidak bisa dihindari, karena krisis energi global berdampak pada biaya produksi. Sejauh ini, kenaikan biaya produksi masih lebih disebabkan oleh kenaikan harga komponen utama laptop dan PC desktop seperti RAM, SSD, CPU, dan GPU, serta biaya pengiriman (shipping cost).
“Kalau harga komponen akibat minimnya pasokan RAM-SSD dan komponen lain yang mengandung chip silikon, bisa mencapai sekitar 30%,” imbuhnya.
Asus masih memantau perkembangan baik skala geopolitik global maupun kebijakan pemerintah terkait produksi elektronik di dalam negeri. Firman memastikan bahwa Asus telah mengamankan pasokan komponen laptop dan PC desktop untuk tahun ini. Namun, jika konflik terus berlanjut dalam jangka waktu yang panjang, pasokan komponen untuk produk Asus yang dirakit di Indonesia juga pasti terganggu. Dengan demikian, harga produk bisa menjadi semakin mahal yang berujung pada melemahnya daya beli atau permintaan.























