Peternak Ayam Petelur yang Berhasil dari Nol
Fatkurrohman (60) adalah seorang pensiunan perangkat desa di Desa Tinggar, Kecamatan Bandarkedungmulyo, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Ia kini dikenal sebagai peternak ayam petelur yang sukses dan ulet. Dulu, ia bekerja sebagai perangkat desa selama bertahun-tahun, namun setelah pensiun, ia memilih untuk mencoba hal baru dengan semangat pantang menyerah.
Usaha ternak ayam yang dimulainya dari nol ini menjadi sumber penghidupan barunya. Awalnya, Fatkurrohman hanya mampu menampung 1.000 ekor ayam. Namun, dengan usaha dan ketekunan, jumlah tersebut kini telah meningkat menjadi 4.000 ekor. Ia memulai usahanya dengan modal awal sekitar Rp 150 juta yang berasal dari tabungan pribadi. Karena tidak cukup, ia meminjam tambahan dari saudara.
“Awalnya saya hanya mampu menampung 1.000 ekor ayam. Sekarang alhamdulillah sudah 4.000 ekor dan terus berkembang,” ujarnya saat ditemui di kandangnya yang tidak jauh dari rumahnya di Desa Tinggar.
Panen Setiap Hari
Dari 3.000 ekor ayam yang sedang produktif, setiap harinya Fatkurrohman bisa memanen sekitar 142-144 kilogram telur. Hasil panen ini kemudian dibeli oleh para tengkulak dan pedagang dari berbagai kecamatan, seperti Gudo dan Megaluh. Harga telur di tingkat kandang saat ini stabil, sekitar Rp 26 ribu per kilogram. Kondisi ini sangat membantu peternak kecil seperti dirinya.
“Dengan harga segitu, kita masih bisa untung, asal biaya pakan tidak naik terus,” ujarnya.
Kreatif Cegah Bau Kandang
Selain ketekunan, keberhasilan Fatkurrohman juga didukung oleh inovasinya dalam menjaga lingkungan kandang tetap bersih dan tidak berbau. Ia rutin menyemprot cairan fermentasi EM4 seminggu sekali untuk mengurai limbah dan menjaga udara tetap segar.
“Kalau tidak disemprot, baunya bisa menyengat. Tapi dengan cairan itu, kandang lebih nyaman,” katanya.
Tantangan Harga Jagung
Meski demikian, perjalanan usahanya tidak selalu mulus. Kenaikan harga pakan, terutama jagung, menjadi tantangan besar. Harga jagung yang sebelumnya Rp 5.500 per kilogram kini menembus Rp 7.000, bahkan lebih di tingkat gudang.
“Kalau harga pakan naik, ya otomatis untung ikut turun. Tapi sejauh ini masih bisa bertahan,” ungkapnya. Ia berharap ke depan ada koperasi khusus peternak yang dapat menyalurkan jagung dengan harga lebih stabil dan terjangkau.
“Kalau ada koperasi yang bisa bantu suplai jagung, peternak seperti kami pasti lebih tenang,” bebernya.
Dari Desa, Untuk Desa
Kini, dari kandang sederhana di Desa Tinggar, Fatkurrohman bukan hanya membuktikan bahwa masa pensiun bisa tetap produktif, tapi juga memberi inspirasi bagi warga sekitar. Ia menjadi contoh nyata bahwa kerja keras, ketekunan, dan kemauan belajar bisa mengubah kehidupan, bahkan setelah pensiun dari dunia pemerintahan.
“Yang penting niat dan sabar. Pasti ada hasilnya,” pungkasnya.























