Jorge Martin Soroti Kelebihan Marc Marquez dalam Duel Gelar MotoGP 2026

Panbil Mall

Jorge Martin menilai perebutan gelar MotoGP 2026 melawan Marc Marquez tidak terasa jauh berbeda dibanding saat ia dua kali bertarung dengan Francesco Bagnaia. Namun, pembalap Aprilia itu melihat ada satu hal yang membuat Marquez tampak lebih berbahaya: pebalap berjuluk MM93 itu disebut lebih jarang membuat kesalahan dan hampir selalu siap memanfaatkan peluang. Persaingan keduanya kini memasuki fase krusial setelah balapan di Indonesia, dengan lima seri tersisa dan jarak di klasemen hanya dua poin.

Martin bukan orang baru dalam tekanan perebutan titel. Ia sudah merasakan kerasnya duel sampai akhir musim ketika melawan Bagnaia pada MotoGP 2023 dan 2024. Musim 2023 berakhir pahit baginya, tetapi setahun kemudian ia membalas dengan merebut gelar dunia. Karena pengalaman itu, Martin merasa situasi menegangkan semacam ini bukan hal asing, meski lawan yang dihadapi sekarang punya karakter berbeda.

Dalam pandangannya, perubahan paling mencolok bukan terletak pada pola pertarungan, melainkan pada tingkat konsistensi Marquez. Martin menilai juara dunia delapan kali itu sangat sulit diberi celah. Sedikit saja ia melakukan kesalahan, Marquez disebut langsung hadir untuk menekan dan mengambil keuntungan. Itulah yang menurut Martin membuat duel kali ini terasa istimewa sekaligus menuntut ketelitian lebih besar.

“Bagi saya, tidak banyak yang berubah,” kata Martin mengutip Crash. Ia lalu menyinggung perbandingan pengalaman keduanya di level tertinggi. “Maksud saya, tentu saja dia (Marquez), saya memiliki pengalaman meraih dua gelar (Moto3 dan MotoGP), tetapi dia memiliki pengalaman sembilan gelar,” ujarnya. Martin menambahkan bahwa fakta itu bukan keuntungan otomatis baginya. “Jadi, itu bukan sebuah keuntungan, tetapi yang pasti saya lihat adalah Marquez lebih sedikit melakukan kesalahan,” lanjutnya.

Martin juga menegaskan bahwa dirinya tidak bisa memaksakan sesuatu di luar kemampuan. Menurut dia, satu-satunya jalan adalah tampil sebaik mungkin di setiap seri. “Saya tidak bisa melakukan lebih dari apa yang saya mampu dan sejujurnya, menang atau tidak akan menjadi konsekuensi dari melakukan segala sesuatu dengan baik,” katanya. Bagi Martin, hasil akhir akan mengikuti seberapa rapi ia menjalani sisa musim.

Situasi musim ini menjadi menarik karena jarak dua poin antara Martin dan Marquez tergolong sangat tipis untuk fase akhir kejuaraan. Kondisi tersebut juga mengingatkan pada beberapa duel klasik melawan Marquez di masa lalu. Pada 2013, Jorge Lorenzo sempat menekan hingga putaran terakhir sebelum Marquez juara. Lalu pada 2017, Andrea Dovizioso juga membawa persaingan sampai seri penutup, tetapi Marquez kembali keluar sebagai pemenang.

Ancaman Marquez pada 2026 terasa makin besar karena kebangkitannya setelah sempat tertinggal 102 poin dari puncak klasemen usai operasi bahu seusai seri Prancis. Sejak kembali, ia sudah mengoleksi enam kemenangan grand prix, sementara Martin baru meraih satu. Dengan lima seri tersisa, Martin kini harus mengandalkan pengalaman panjangnya dalam pertarungan gelar untuk menghadapi lawan yang dinilai lebih minim celah.