Vietnam Dinilai Bisa Percepat Jalan ke Piala Dunia lewat Status Tuan Rumah

Panbil Mall

Media Vietnam menyoroti satu jalan yang dianggap paling realistis dan paling singkat untuk membawa tim nasional mereka tampil di Piala Dunia, yakni menjadi tuan rumah turnamen tersebut. Gagasan itu muncul di tengah pengakuan bahwa menembus putaran final lewat jalur kualifikasi masih sangat berat bagi Vietnam, seperti halnya negara-negara Asia Tenggara lain. Sejauh ini, capaian terbaik Vietnam adalah mencapai putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2022.

Peluang itu dinilai bisa sedikit lebih terbuka pada edisi 2030 jika FIFA benar-benar menambah jumlah peserta menjadi 64 tim. Dalam skema itu, Asia berpotensi memperoleh sampai 12 tiket otomatis, naik dari delapan jatah pada format 48 tim. Meski begitu, sampai sekarang belum ada keputusan resmi soal format 64 tim, dan rencana tersebut masih bergantung pada banyak faktor.

Di tengah ketidakpastian itu, media Vietnam Tuoi Tre menilai jalur paling cepat bukan sekadar membangun kekuatan tim untuk lolos kualifikasi, melainkan mengincar status penyelenggara. Negara yang menjadi tuan rumah atau tuan rumah bersama Piala Dunia otomatis tampil di putaran final tanpa harus melewati babak kualifikasi. Contoh terbarunya adalah Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko yang akan menjadi penyelenggara bersama Piala Dunia 2026.

Gagasan tersebut juga sempat disampaikan Presiden Vietnam To Lam. Dalam pertemuannya dengan Presiden FIFA Gianni Infantino di Hanoi pada akhir Agustus, To Lam menyampaikan bahwa Vietnam memiliki rencana jangka panjang dan berharap FIFA mendukung ambisi negaranya untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia. Ia menyebut fasilitas, stadion, serta aspek keamanan dapat memenuhi syarat yang dibutuhkan.

Pernyataan itu kembali disinggung To Lam saat upacara peringatan 70 tahun berdirinya Cong An Ha Noi (CAHN) pada 10 Oktober. Ia bahkan mengutip pembicaraannya dengan Infantino, yang menurutnya memperkirakan peluang paling cepat bagi Vietnam baru terbuka pada 2042. To Lam juga mengakui bahwa Piala Dunia 2034 sudah lebih dulu diberikan kepada Arab Saudi sebagai wakil Asia.

Meski waktu menuju 2042 masih panjang, Tuoi Tre menilai Vietnam tidak bisa bersantai jika serius ingin mengejar mimpi itu. Sebab, menjadi tuan rumah Piala Dunia bukan hanya soal niat politik atau dukungan federasi, tetapi juga kesiapan infrastruktur dalam skala besar. Negara penyelenggara harus menyiapkan stadion, transportasi, akomodasi, dan layanan pendukung bagi jutaan penonton.

Aturan FIFA terbaru bahkan mewajibkan calon tuan rumah mengajukan sedikitnya 14 stadion yang memenuhi syarat. Selain jumlah arena, kapasitas dan kondisi bangunan juga harus sesuai standar. Karena itu, jika Vietnam benar-benar ingin mengejar kesempatan menjadi penyelenggara Piala Dunia 2042, perencanaan rinci harus dimulai sejak sekarang, bukan hanya berhenti sebagai wacana.