Renungan Harian Katolik Suara Pagi
Bersama saya Pastor John Lewar, SVD
Biara Soverdi St. Josef Freinademetz
STM Nenuk Atambua Timor NTT
Selasa, 7 April 2026
HARI SELASA DALAM OKTAF PASKAH
Kis. 2:36-41; Mzm. 33:4-5,18-19,20,22; Yoh. 20:11-18
Warna Liturgi Putih
Dari Air Mata Menjadi Sukacita
Hari itu adalah hari yang paling gelap dalam hidup Maria Magdalena. Dia berdiri di luar kubur dengan hati yang hancur. Ia menangis karena kehilangan—Yesus yang ia kasihi telah mati, dan kini tubuh-Nya pun tidak ada. Air matanya mencerminkan perasaan putus asa, kebingungan, dan duka yang mendalam.
Dalam kondisi itu, ia bahkan tidak menyadari bahwa Yesus sendiri berdiri di dekatnya. Kesedihan sering kali membatasi pandangan kita, membuat kita sulit melihat bahwa Tuhan sebenarnya hadir.
Namun, segalanya berubah ketika Yesus memanggil namanya, “Maria!” Satu panggilan pribadi itu membuka matanya. Ia mengenali Sang Guru.
Air mata kesedihan berubah menjadi sukacita yang melimpah. Dari kehilangan menjadi perjumpaan. Dari keputusasaan menjadi pengharapan.
Kehidupan yang Penuh Perubahan
Suatu ketika, saya berjumpa dengan seorang teman yang sedang mengalami kesedihan mendalam karena kehilangan pekerjaan. Ia merasa terpuruk, tidak tahu harus mulai dari mana.
Beberapa minggu setelahnya, ia menceritakan kepada saya bagaimana ia akhirnya mulai menemukan kembali sukacita dalam hidupnya. Dia merasa bahwa selama ini Tuhan tidak meninggalkannya, bahkan di saat terberat sekalipun.
“Awalnya, aku merasa seperti Maria Magdalena—hanya bisa menangis tanpa tahu apa yang harus kulakukan. Tapi entah kenapa, suatu hari aku merasa Tuhan berbicara padaku, memberiku kekuatan baru,” katanya.
Meskipun situasinya belum berubah, hatinya dipenuhi dengan harapan. Dia mulai melihat peluang baru yang tidak ia sadari sebelumnya. Air mata kesedihan itu memang nyata, tetapi ketika ia membuka hati untuk merasakan kehadiran Tuhan, sukacita pun mulai datang menggantikan rasa kehilangan.
Pesan Kehidupan yang Mendalam
Kisah ini mengajarkan bahwa: Tuhan tidak jauh saat kita menangis—Dia dekat, bahkan lebih dekat dari yang kita sadari.
Yesus mengenal kita secara pribadi. Ia memanggil nama kita, sama seperti Ia memanggil Maria.
Sukacita sejati lahir dari perjumpaan dengan Kristus yang bangkit, bukan dari keadaan yang berubah semata. Mungkin hari ini kita juga sedang “berdiri di depan kubur” kehidupan—menghadapi kehilangan, kegagalan, atau harapan yang pupus. Air mata itu nyata dan manusiawi.
Tetapi firman ini mengingatkan: cerita tidak berhenti di air mata. Kebangkitan Yesus mengubah segalanya. Saat kita membuka hati dan mendengar panggilan-Nya, kita akan mengalami perubahan yang sama—dari air mata menjadi sukacita.
Doa untuk Kehidupan yang Lebih Baik
Tuhan Yesus, di saat aku berduka dan merasa kehilangan, tolong aku menyadari kehadiran-Mu. Panggil namaku seperti Engkau memanggil Maria, agar aku dapat melihat bahwa Engkau hidup dan dekat denganku. Ubah air mataku menjadi sukacita di dalam-Mu. Amin.
Semangat dan Berkat
Sahabatku yang terkasih, Selamat Pesta Paskah. Salam doa dan berkatku untukmu dan keluarga di mana saja berada: Dalam Nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus…Amin.




