
Menurutnya, pergantian tahun bukan sekadar seremoni, melainkan momentum refleksi bagi seluruh masyarakat.
Amsakar juga mengajak warga memaknai Tahun Baru Imlek sebagai waktu untuk berbenah dan memperkuat kontribusi bagi daerah.
“Keberagaman di Batam merupakan kekuatan yang harus dirawat bersama,” ucapnya.
Menurutnya, heterogenitas masyarakat ibarat sebuah orkestrasi yang akan melahirkan harmoni apabila dikelola dengan baik.
“Keberagaman di Batam adalah kekuatan. Jika diaransemen dengan baik, akan menghasilkan harmoni yang indah. Itulah yang harus kita jaga bersama,” katanya.
Amsakar menilai keberagaman menjadikan Batam sebagai salah satu kota dengan tingkat moderasi dan toleransi beragama yang tinggi di Indonesia.
“Capaiwn ini merupakan hasil kerja bersama seluruh elemen masyarakat,” pungkasnya.
Dalam perayaan tersebut, nuansa kebersamaan kental terasa sejak memasuki area acara.
Lampion merah menghiasi sepanjang lokasi, sementara panggung utama penuh ornamen khas Imlek.
Pertunjukan barongsai dan atraksi seni budaya Tionghoa memukau warga yang datang.
Puncak Imlek dihiasi dengan pesta kembang api yang menerangi langit Nagoya tepat saat pergantian tahun.
Dentuman kembang api yang memecah malam disambut sorak-sorai ribuan warga, menjadi simbol harapan baru bagi Batam yang harmonis, maju, dan semakin bersatu di tahun yang baru.
Warga keturunan Tionghoa dan masyarakat dari berbagai suku turut merayakan dan saling mengucapkan selamat tahun baru dengan penuh kehangatan.
(Ipl/Ft)






















