Nepal Chaos
Bandara Internasional Kathmandu sempat lumpuh akibat kerusuhan namun diperkirakan kembali beroperasi pada Rabu.
Asap masih terlihat mengepul dari gedung-gedung pemerintahan, rumah politikus, hingga pusat perbelanjaan.
Jadi Sorotan Dunia
Krisis ini memicu perhatian dunia. International Crisis Group menyebut gejolak di Nepal sebagai “titik balik besar” dalam sejarah demokrasi negara Himalaya tersebut.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyerukan semua pihak menahan diri demi mencegah eskalasi lebih lanjut.
Sejumlah pakar menilai Nepal membutuhkan pemerintahan transisi yang melibatkan tokoh-tokoh muda agar krisis bisa segera diakhiri.
“Para demonstran, pemimpin yang mereka percayai, dan militer harus duduk bersama,” ujar pengacara konstitusi Dipendra Jha.
Kawula Muda Banyak jadi Pengangguran
Latar belakang kemarahan publik banyak dipicu masalah generasi muda. Data Bank Dunia mencatat lebih dari 20% pemuda Nepal berusia 15–24 tahun menganggur.
Produk domestik bruto (PDB) per kapita hanya mencapai US$1.447, menambah rasa frustrasi kaum muda yang merasa termarjinalkan.
Larangan pemerintah terhadap 26 platform media sosial sebelumnya justru memperburuk situasi.
Meski belakangan dicabut, TikTok yang tak sempat diblokir menjadi wadah utama penyebaran pesan perlawanan.
Video viral memperlihatkan jurang kesenjangan antara rakyat biasa dan anak pejabat yang kerap memamerkan gaya hidup mewah.
Kini arah politik Nepal tak jelas. Meski gerakan Gen Z mendorong perubahan besar, sosok pemersatu yang dapat mengarahkan negeri Himalaya menuju stabilitas masih gelap.
(Kml/Ft)






















