Niat Netanyahu Rampas Paksa Gaza Didemo Ribuan Warganya Sendiri di Sejumlah Kota di Israel

Rampas Paksa Gaza
Ratusan warga
Rampas Paksa Gaza
Demonstran menyalakan obor dan membentangkan foto para sandera, sebagai bentuk protes atas niat Netanyahu ingin merampas kota Gaza sepenuhnya. (Foto: dok/Reuters)

Saat pertemuan berlangsung, sejumlah pengunjuk rasa merantai diri mereka di luar kantor PM Netanyahu.

“Selama setahun dan 10 bulan kami mencoba percaya bahwa segala upaya dilakukan untuk membawa mereka kembali, tapi kalian malah gagal,” ungkap Anat Angrest, ibu dari sandera Matan Angrest.

Pernyataan kolektif kelompok tersebut yang diterbitkan pada Jumat (8/8), setelah pengumuman tersebut, menuduh pemerintah Israel membawa korban sandera menuju kematian.

Saat ini, tercatat 50 sandera Israel masih menjadi tawanan Hamas, 20 diantaranya diyakini masih hidup.

Yehuda Cohen, putranya, Nimrod, adalah salah satu tawanan, menyebut keputusan Netanyahu telah membahayakan putranya.

“Keputusan Netanyahu membahayakan putra saya dan sandera hidup lainnya,” kata Cohen kepada program Newsday BBC World Service.

“Itu membahayakan dan memperpanjang penderitaan mereka,” tambahnya.

Tal Schneider, koresponden politik di Times of Israel mengatakan telah terjadi reaksi publik yang besar di Israel terhadap rencana Netanyahu.

“Semua jajak pendapat publik menunjukkan, sangat menentang langkah ini,” kata Schneider kepada program Today di BBC Radio 4, Jumat.

Seorang pemilik hotel di Tel Aviv, Danny Bukovsky, mengatakan keputusan Netanyahu sama saja kematian bagi semua sandera yang masih ditahan Hamas.

“Saya pikir ini hukuman mati bagi semua sandera. Ini keputusan yang salah untuk melakukannya saat ini,” kata Bukovsky kepada Reuters.

Ia mendesak agar Netanyahu membawa semua sandera pulang dengan selamat.

“Setelahnya, jika mereka memutuskan untuk mengambil alih seluruh Jalur Gaza, itu keputusan mereka. Saya pikir kita harus melakukan sesuatu terhadap […] Hamas, tapi tidak saat ini,” sebut Bukovsky.

Warga Israel Talya Saltzman juga meminta agar pemerintahnya mengutamakan untuk membawa pulang para sandera.

“Saya tahu rencananya untuk menyingkirkan Hamas, tapi kami sudah mencobanya selama 2 tahun penuh,” kata Saltzman kepada Reuters.

“Rencana ini sepertinya tidak akan menunjukkan kemajuan yang berarti. Kecuali kita bisa menyingkirkan seluruh Hamas sekaligus, [saya] berpikir bahwa para sandera harus menjadi prioritas utama, baru kemudian kita harus mencegah semua prajurit kita mati,” tegasnya.

 

Editor: Erwin Syahril