Israel Hentikan Bantuan ke Gaza Untuk Menekan Hamas

Israel hentikan bantuan
Puluhan truk pengangkut
Israel hentikan bantuan
Truk-truk berbaris di sisi Mesir di perbatasan Rafah antara Mesir dan Jalur Gaza pada hari Minggu, 2 Maret 2025. (Foto AP/Mohamed Arafat) 

Patrolmedia, Tel Aviv -:- Israel hentikan bantuan semua barang dan pasokan yang masuk ke Jalur Gaza pada Minggu (2/3/25).

Israel hentikan bantuan dengan alih-alih menekan Hamas agar mau menerima proposal baru untuk perpanjangan gencatan senjata yang diajukan AS.

Hamas menilai Israel berusaha menggagalkan perjanjian gencatan senjata yang telah ada dan menganggap keputusan untuk menghentikan bantuan merupakan pemerasan murahan, kejahatan perang dan serangan terang-terangan terhadap gencatan senjata.

Kedua belah pihak tidak mengatakan gencatan senjata telah berakhir.

Tahap pertama gencatan senjata, yang mencakup peningkatan bantuan kemanusiaan, berakhir pada hari Sabtu.

Kedua pihak belum merundingkan tahap kedua di mana Hamas akan membebaskan puluhan sandera yang tersisa sebagai imbalan atas penarikan pasukan Israel dan gencatan senjata yang langgeng.

Mesir yang telah bertindak sebagai mediator utama antara Israel dan Hamas, mengecam penutupan tersebut dan menuduh Israel menggunakan “kelaparan sebagai senjata.”

Menteri Luar Negeri Badr Abdelatty menyerukan agar Fase 2 dari perjanjian gencatan senjata yang ada segera dilaksanakan.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa berdasarkan perjanjian yang ada, Israel dapat melanjutkan pertempuran setelah tahap pertama jika mereka yakin negosiasi tidak efektif.

Ia mengatakan gencatan senjata hanya akan berlanjut jika Hamas terus membebaskan sandera, dan mengatakan kepada Kabinetnya bahwa “tidak akan ada makan siang gratis.”

Ia mengatakan Israel “berkoordinasi penuh” dengan pemerintahan Presiden Donald Trump.


Simak juga: Warga Palestina dibatasi ke Masjid Al Aqsa Selama Ramadan 2025


Tidak ada komentar langsung dari AS mengenai proposal yang diumumkan Israel atau keputusannya untuk menghentikan bantuan.

Ratusan truk bantuan telah memasuki Gaza setiap hari sejak gencatan senjata dimulai pada 19 Januari.

Namun, penduduk mengatakan harga naik 2 kali lipat pada Minggu ini ketika berita penutupan menyebar dan orang-orang bergegas untuk menimbunnya.

“Semua orang khawatir,” kata Sayed al-Dairi, seorang pria yang tinggal di Kota Gaza. “Ini bukan kehidupan.”

Fayza Nassar, seorang wanita yang tinggal di kamp pengungsi perkotaan Jabaliya yang hancur parah mengatakan, penutupan tersebut akan memperburuk kondisi kehidupan yang sudah buruk.

“Akan terjadi kelaparan dan kekacauan,” katanya. “Menutup penyeberangan adalah kejahatan keji,” kata Fayza.

Israel mengklaim mendapat dukungan AS terkait usulan baru tersebut yang katanya datang dari utusan AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff, menyerukan perpanjangan gencatan senjata hingga Ramadan — bulan suci umat Islam yang dimulai pada akhir pekan — dan hari raya Paskah Yahudi yang berakhir pada tanggal 20 April.

Berdasarkan usulan itu, Hamas akan membebaskan separuh sandera pada hari pertama dan sisanya ketika kesepakatan mengenai gencatan senjata permanen dicapai, kata Netanyahu.

Hamas memperingatkan, setiap upaya untuk menunda atau membatalkan perjanjian gencatan senjata akan menimbulkan “konsekuensi kemanusiaan” bagi para sandera.

Hamas menegaskan kembali, satu-satunya cara untuk membebaskan mereka adalah melalui penerapan kesepakatan yang tidak menentukan batas waktu untuk membebaskan tawanan yang tersisa.

Hamas bersedia membebaskan semua sandera sekaligus pada Tahap 2, tetapi hanya dengan imbalan pembebasan lebih banyak tahanan Palestina, gencatan senjata permanen, dan penarikan pasukan Israel.

Seorang pejabat Mesir mengatakan Hamas dan Mesir tidak akan menerima usulan baru yang bertujuan untuk memulangkan para sandera yang tersisa tanpa mengakhiri perang.

Pejabat itu mencatat kesepakatan tersebut mengharuskan kedua pihak memulai negosiasi mengenai Tahap 2 pada awal Februari.

Pejabat tersebut mengatakan mediator sedang berusaha menyelesaikan perselisihan yang ada.

 

Editor: Fatmi Rahim