Bitcoin Anjlok ke US$67 Ribu, Terendah Sejak April

Pasar mata uang kripto mengalami gejolak hebat pada awal Juni, ditandai dengan anjloknya harga Bitcoin ke level terendah sejak April. Pada Selasa waktu Amerika Serikat (2/6), harga aset kripto utama ini menembus angka di bawah US$ 70 ribu, atau setara dengan Rp 1,25 miliar dengan kurs Rp 17.850 per dolar AS. Penurunan yang signifikan ini tidak hanya menimpa Bitcoin, tetapi juga memberikan dampak berantai pada aset kripto lainnya serta saham-saham perusahaan yang memiliki keterkaitan erat dengan industri ini.

Menurut data dari Coin Metrics, harga Bitcoin mengalami penurunan lebih dari 6% pada hari itu, mencapai US$ 67.014,97, bahkan sempat menyentuh titik terendahnya di US$ 66.954,99. Ethereum, mata uang kripto terbesar kedua, tidak luput dari tekanan, dengan harga yang terkoreksi sebesar 4,7%.

Dampak Merembet ke Saham Perusahaan Kripto

Tidak hanya aset kripto yang merasakan pukulan, saham-saham perusahaan yang bergerak di sektor ini juga mengalami koreksi tajam. Strategy, sebuah perusahaan yang dikenal memiliki cadangan Bitcoin dalam jumlah besar, mencatat penurunan sahamnya hingga 9%. Perubahan haluan Strategy ini menjadi salah satu pemicu kekhawatiran di pasar.

Galaxy, yang berfokus pada investasi dan layanan keuangan aset digital, juga mengalami nasib serupa dengan harga sahamnya yang anjlok 5,9%. Bursa kripto terkemuka, Coinbase, turut merasakan dampaknya, di mana sahamnya turun 4,7%.

Pemicu Penurunan: Penjualan Bitcoin oleh Strategy

Akar dari penurunan harga Bitcoin ini dapat ditelusuri kembali ke hari Senin (1/6). Strategy secara mengejutkan mengumumkan penjualan 32 Bitcoin senilai US$ 2,5 juta. Ini merupakan penjualan pertama perusahaan tersebut sejak tahun 2022. Meskipun jumlah yang dijual tergolong kecil jika dibandingkan dengan total kepemilikan mereka yang mencapai lebih dari 843 ribu BTC, tindakan ini memicu kekhawatiran investor.

Keputusan Strategy ini bertentangan dengan slogan pendirinya, Michael Saylor, yang dikenal dengan prinsip “jangan pernah menjual Bitcoin Anda”. Perubahan strategi ini menimbulkan pertanyaan dan keraguan di kalangan investor mengenai prospek masa depan Bitcoin.

Efek Domino: Likuidasi dan Tekanan Jual

Kekhawatiran investor yang muncul setelah pengumuman Strategy dengan cepat berujung pada aksi jual yang lebih luas. Trader yang menggunakan strategi leverage dan telah bertaruh pada kenaikan harga Bitcoin dipaksa untuk menutup posisi mereka guna membatasi kerugian. Dalam skenario ini, bursa kripto secara otomatis melakukan penjualan aset yang dijadikan jaminan (collateral) untuk menutup posisi yang merugi.

Proses likuidasi paksa ini menambah tekanan jual di pasar, menciptakan efek bola salju yang mempercepat laju penurunan harga. Data dari CoinGlass menunjukkan bahwa dalam periode 24 jam terakhir, bursa kripto mencatat likuidasi posisi beli senilai US$ 594 juta.

Hambatan Menuju Rekor Baru dan Arus Keluar ETF

Saat ini, Bitcoin menghadapi tantangan besar untuk kembali mendekati rekor tertingginya yang pernah dicapai pada Oktober, yaitu lebih dari US$ 126 ribu. Salah satu faktor ketidakpastian yang turut membebani pasar adalah isu geopolitik, khususnya terkait ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Selain itu, data dari SoSoValue mengungkapkan tren arus keluar bersih yang berkelanjutan dari ETF Bitcoin. Pada Senin (1/6), ETF Bitcoin mencatat arus keluar bersih selama sebelas hari berturut-turut, menandai rekor terpanjang yang pernah tercatat. Arus keluar yang konsisten dari produk investasi yang didukung oleh Bitcoin ini mengindikasikan adanya keraguan dari investor institusional, yang semakin menambah tekanan pada harga Bitcoin.

Implikasi dari penurunan harga ini sangat luas, tidak hanya bagi investor individu, tetapi juga bagi ekosistem aset digital secara keseluruhan. Analis pasar kini memantau dengan cermat bagaimana dinamika pasar akan berkembang dalam beberapa waktu ke depan, serta faktor-faktor apa saja yang akan memengaruhi pemulihan atau kelanjutan tren penurunan harga Bitcoin dan aset kripto lainnya.