Lokal  

Polisi Periksa Pemilik Gedung Terkait Kematian 4 Pekerja di Jagakarsa

Panbil Mall

Penyelidikan Terhadap Pemilik Gedung dan Mandor Proyek Bangunan di Jagakarsa

Polisi sedang melakukan penyelidikan terkait kematian empat pekerja bangunan yang terjadi di kawasan TB Simatupang, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Keempat korban tersebut adalah Yana Nugraha (32), Mawi (62), Tatang Sonjaya (63), dan Muhammad Fauzi (19). Insiden ini berawal dari tindakan para pekerja yang diminta untuk menguras glonteng di basement, namun diduga terdapat gas berbahaya yang menyebabkan mereka kehilangan kesadaran hingga meninggal dunia.

Jadwal Pemeriksaan

Kapolsek Jagakarsa, Kompol Nurma Dewi, menjelaskan bahwa pemeriksaan terhadap pemilik gedung dan mandor proyek akan dilakukan dalam pekan ini. “Segera dijadwalkan. Iya (pekan ini),” ujar Nurma. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui dugaan kelalaian yang mungkin terjadi selama proses konstruksi proyek tersebut.

Kronologi Kejadian

Peristiwa bermula pada Jumat (3/4/2026) sekitar pukul 10.00 WIB. Menurut keterangan saksi-saksi, mandor proyek memerintahkan sejumlah pekerja untuk menguras glonteng yang berada di basement. Glonteng tersebut memiliki ukuran panjang enam meter dan kedalaman tiga meter yang dibagi menjadi dua bagian.

Para korban tiba-tiba terjatuh hingga terperosok ke dalam glonteng. Beberapa rekan kerja mereka mencoba melakukan pertolongan dengan turun ke bawah glonteng. Saat evakuasi, saksi merasakan hawa panas di sekitar glonteng. Diduga, terdapat gas berbahaya yang terperangkap di dalam penampungan air tersebut, sehingga menyebabkan para korban kehilangan kesadaran dan akhirnya meninggal dunia.

Keempat korban sempat dibawa ke RS Pasar Rebo untuk mendapatkan pertolongan pertama, tetapi nyawa mereka tidak tertolong. Dokter UGD RS Pasar Rebo menyatakan bahwa korban telah meninggal dunia saat tiba di rumah sakit.

Periksa CCTV

Nurma Dewi mengungkapkan bahwa pihaknya sedang menelusuri kemungkinan adanya unsur pidana dalam peristiwa tersebut. “Diusut, lagi dicari CCTV dan saksi-saksi,” ujarnya singkat. Polisi juga sedang mengumpulkan keterangan saksi dan rekaman CCTV untuk memperkuat penyelidikan.

Kondisi Proyek Gedung

Pantauan di lokasi kejadian menunjukkan bahwa tidak ada aktivitas konstruksi maupun lalu lalang pekerja di dalam area proyek. Proyek gedung setinggi delapan lantai itu berdiri kaku dengan kolom-kolom beton terbuka tanpa dinding penutup, memperlihatkan kondisi yang belum rampung. Sebagian besar sisi atas bangunan diselimuti jaring pengaman (safety net) berwarna biru, namun kondisinya tampak kusam dan robek di beberapa bagian.

Di bagian depan, pagar pembatas dari lembaran seng bergelombang dan triplek menutup rapat area dasar proyek dari pandangan pengguna jalan. Permukaan pagar dipenuhi coretan grafiti dan noda karat, memberi kesan kumuh di tengah kawasan komersial yang padat. Sebuah spanduk kuning bertuliskan “DIJUAL” dengan nomor kontak terpasang mencolok pada pagar tersebut, mempertegas bahwa lahan dan bangunan itu kini tengah dipasarkan.

Di balik pagar, tampak tumpukan material sisa dan rangka perancah (scaffolding) yang masih berdiri, namun tidak digunakan. Meski berada di jalur protokol yang ramai, area proyek justru terlihat sepi. Hanya sesekali terlihat satu orang penjaga berjalan mondar-mandir di dalam kawasan, tanpa aktivitas lain yang berarti.

Pengakuan Warga Sekitar

Warga yang biasa mangkal di pangkalan ojek tak jauh dari proyek mengaku sudah tidak melihat aktivitas sejak insiden terjadi. “Sejak kemarin kejadian itu, langsung sepi. Biasanya ada saja pekerja keluar-masuk, sekarang enggak ada sama sekali,” ujar Ipan (45), pengemudi ojek pangkalan di sekitar lokasi, Sabtu. Ia menambahkan, sebelum kejadian, proyek tersebut memang berjalan tidak terlalu cepat, namun tetap ada aktivitas harian.