seni  

Jepara: Dekade Memahat Yesus dalam Doa

Di sebuah dusun tenang di Desa Bandengan, Kecamatan Jepara, Kabupaten Jepara, suara pahat yang sabar memecah kesunyian pagi. Di tengah tumpukan serpihan kayu dan di bawah naungan pepohonan rindang, Suwantomo, atau akrab disapa Tomo (47), tengah tekun menyelesaikan sebuah patung Yesus setinggi hampir tiga meter. Gerakan tangannya tampak perlahan namun pasti, sesekali berhenti untuk mengamati karyanya, seolah memastikan setiap lekukan menyampaikan pesan spiritual yang mendalam.

“Saya sudah lama membuat patung rohani Yesus, sekitar sepuluh tahunan,” ungkap Tomo, sembari mengusap keringat di dahinya. Namun, perjalanan seninya tidak langsung dimulai dengan patung-patung religius. “Awalnya saya hanya mengukir biasa. Kemudian, saya membuat patung hewan. Baru setelah bergabung dengan Mas Dandi Bukit Akar, saya mulai mendalami pembuatan patung rohani,” jelasnya.

Dari Ukiran Tradisional Hingga Patung Yesus yang Agung

Perjalanan seni Tomo bukanlah sebuah proses instan. Ia mulai mengenal dunia ukir sejak masih duduk di bangku SMP, sekitar tahun 1992. Sejak saat itu, tangannya tidak pernah benar-benar lepas dari serat kayu. Mengukir telah menjadi rutinitasnya, bahkan bagian tak terpisahkan dari hidupnya. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, permintaan akan ukiran tradisional mulai menurun drastis.

“Ukiran sekarang agak sepi peminatnya,” keluhnya. Dari sinilah ia mulai mencari jalan baru untuk mengembangkan bakat seninya. Patung, rupanya, menawarkan ruang kreativitas yang lebih luas, sekaligus peluang pekerjaan yang lebih menjanjikan. Sekitar tahun 2015, ia memutuskan untuk beralih fokus sepenuhnya ke pembuatan patung.

“Saya menekuni patung itu sudah sepuluh tahunan,” ujarnya. Dan dari sinilah namanya mulai dikenal luas, terutama berkat karya-karya patung rohani, khususnya figur Yesus Kristus.

Karya Agung yang Lahir dari Sebatang Kayu Utuh

Patung raksasa setinggi 2 meter 90 sentimeter yang sedang dikerjakannya saat ini adalah pesanan khusus dari Jakarta. Dibuat dari sebatang kayu utuh, proses pengerjaannya membutuhkan tenaga, pikiran, dan ketelitian ekstra.

“Tantangannya ya beratnya kayu itu sendiri. Mengangkat dan memindahkannya sangat sulit, kemudian saya juga harus terus berpikir, mengganti-ganti model,” ungkapnya sambil menunjuk batang kayu besar yang kini tinggal setengah menjadi sosok Yesus yang sedang memberkati.

Selain itu, ia juga menceritakan proses kreatif yang tidak selalu berjalan mulus. Satu patung besar seperti ini bisa memakan waktu hingga dua bulan untuk diselesaikan. Jika pesanan terus berdatangan, dalam setahun ia bisa menyelesaikan sekitar lima karya raksasa. Namun, baginya, tidak ada satu pun proses pembuatan patung yang benar-benar mudah.

“Sulit semua. Masing-masing punya kesulitan tersendiri,” jelasnya.

Relief Ukir Tetap Memiliki Tempat di Hatinya

Meskipun kini fokus pada pembuatan patung, Tomo tetap menerima pesanan pembuatan relief seni ukir yang dulu menjadi pijakan awal perjalanan seninya. Untuk ukuran 40 x 40 cm, ia biasanya membutuhkan waktu sekitar satu minggu untuk menyelesaikannya, tergantung pada detail dan tingkat kerumitannya.

“Selain patung, ya relief dan patung hewan juga masih saya buat,” tambahnya.

Dari Desa Kecil ke Pemesan di Kota-Kota Besar

Karya-karya Tomo kini telah melanglang buana, melintasi kota-kota besar hingga pulau-pulau yang jauh. Dari desa Bandengan yang sederhana, patung-patungnya telah menghiasi rumah-rumah ibadah, galeri seni, dan koleksi pribadi di berbagai daerah, termasuk Jakarta. Namun, bagi Tomo, bukan seberapa jauh karyanya pergi yang menjadi ukuran keberhasilan. Yang terpenting adalah bagaimana ia dapat menyatukan ketekunan, iman, dan kesabaran dalam setiap pukulan pahatnya.

“Saya dari dulu memang suka bekerja seperti ini. Sejak SMP,” tuturnya.

Ketika ditanya apa yang membuatnya bertahan dan terus berkarya, ia hanya menatap kayu yang sedang dikerjakannya, lalu berkata dengan nada pelan dan tulus.

“Ya, karena ini hidup saya,” ujarnya.

Seni yang Menyatu dengan Jiwa

Tidak setiap hari seorang pengrajin memiliki kesempatan untuk duduk tenang di depan sebatang kayu utuh, mengubah bongkahan keras itu menjadi figur yang dianggap sakral oleh jutaan umat. Namun, Tomo melakukannya dengan sederhana, tanpa filosofi yang rumit, tanpa slogan-slogan indah. Ia hanya memiliki pengalaman yang telah ia kumpulkan sejak tahun 1992, ketekunan yang tak pernah pudar, dan rasa cinta yang mendalam terhadap pekerjaannya.

Dari rumah kayu sederhana di Desa Bandengan inilah, karya-karya rohani itu tercipta. Dari tangan seorang pria yang menjadikan kayu bukan sekadar bahan mentah, melainkan perpanjangan dari doa, perpanjangan dari hidup, dan perpanjangan dari kesabaran. Dari setiap patung Yesus yang ia bentuk, ada sebagian dari dirinya yang ikut ia serahkan dengan pelan, tenang, dan penuh ketulusan.