
Tonny menegaskan seluruh pesawat kembali dalam kondisi prima, sementara 88 prajurit pulang dengan selamat dan sehat.
Perbedaan Misi di Yordania dan Mesir
Tonny menjelaskan, operasi airdrop di Yordania dilakukan melalui Solidarity Path Operation-II.
Indonesia melakukan misi airdrop bersama sejumlah negara, sedangkan Yordania sendiri memimpin sebagai lead nation dengan koordinasi melalui Multinational Airdrop Planning Cell (MADPC).
Sementara, di Mesir pelaksanaan misi bersifat bilateral. Indonesia bergabung langsung dengan Angkatan Udara Mesir.
Misi Murni Kemanusiaan
Kasau menegaskan misi Satgas Garuda Merah Putih-II sepenuhnya bersifat kemanusiaan tanpa kepentingan militer.
“Peran TNI adalah teknis, yakni mendukung pengoperasian pesawat dan kelancaran airdrop,” ucapnya.
Ia juga mengapresiasi BAZNAS dalam penyaluran bantuan sekaligus menjembatani hibah perlengkapan airdrop ke Pemerintah Mesir.
“Misi ini bukti sinergi pemerintah, lembaga, dan masyarakat Indonesia dalam mendukung perjuangan kemanusiaan di Gaza,” kata Tonny.
Tonny menambahkan, misi itu bukti konsistensi RI mendukung rakyat Palestina.
Hal ini menegaskan solidaritas kemanusiaan dapat melampaui batas negara dan memperkuat diplomasi perdamaian Indonesia di dunia internasional.
“Perjalanan ini merupakan perintah Presiden RI sebagai bentuk solidaritas Indonesia terhadap rakyat Palestina sekaligus bagian dari diplomasi kemanusiaan yang sejalan dengan politik luar negeri Indonesia,” tandasnya.
Sebelumnya, Satgas Garuda Merah Putih-II memulai misi bantuan kemanusiaan pada 17 Agustus hingga 9 September 2025.
TNI ke Gaza mengerahkan 3 pesawat C-130 Hercules tipe J dengan seri A-1344, A-1343, dan A-1339).
Sebanyak 88 personel terlibat yang terdiri dari 45 kru dan 43 prajurit pendukung.
Editor: Erwin Syahril























